Katanya, cinta itu sederhana.. layaknya kau bahagia melihat
sabit dibibirnya. Tapi tanpa rasa sakit, cinta itu ibarat genangan air yang tak
mengalir..
Dan yang paling menyakitkan dari cinta adalah sebuah janji
untuk saling berpegangan hingga akhir perjalanan, namun salah satu diantaranya
memilih menyerah karena tak sanggup lagi menahan luka kerikil – kerikil yang
tajam, adalah sebuah janji untuk saling mencintai, namun salah satu diantaranya
telah kehilangan cinta itu didalam hatinya.
Meski demikian, memutuskan hidup tanpa cinta bukanlah
pilihan yang layak. Betul, mungkin itu akan membuat hidupmu tenang – tenang
saja, no galau, no sad. Tapi kau tak akan pernah mengenal kisah dengan akhir
yang bahagia..
Dalam kisahku, Aku tak tau dia masuk melalui pintu hatiku
yang mana, tiba – tiba saja dia telah berada didalamnya. Namun demi menjaga
ukhwah kami memilih berspasikan syari’at untuk saling mengenal, yah..”hanya
saling mengenal”. Indah juga, merasa disayangi tanpa harus melulu mengatakan itu.
Hingga saat kemarin, kami masih sama – sama terjaga, namun
bukan cintalah bila tak berombak, ombaknya menggoyahkan ku dari pijakan semula,
dan dia masih tetap disana berdiri memberi isyarat “sadarlah dik, masih ada
spasi diantara kita”.
Ia mungkin beranggapan aku tak lagi mengindahkan nasehatnya,
memang begitulah kenyataannya, ku tau itu alasan yang membuatnya meninggalkan
lingkaran sethan ini, dan memutuskan membuang segala cinta yang akan
dipersembahkan untukku setelah walimah nanti..
Karena selalu ada kata “maaf” untuk setiap kesalahan, dan
selalu ada kata “aku memaafkanmu” untuk setiap kata maaf, akhirnya permintaanku
untuk kesempatan kedua di-indahkannya. Akan tetapi, sebaik apapun dirinya,
tetap saja menentukan bukan haknya manusia, dia akan punya caranya untuk meninggalkanku. Aku begitu menyadari aku telah
memecahkan cermin hatinya, sekalipun telah ku satukan serapi mungkin, tetap
saja akan meninggalkan bekas.
Untuk kembali seperti saat pertama “akan sulit” katanya,
seperti isyarat mengusirku pelan – pelan. Yah.. mungkin benar, disetiap
kesalahan akan terselip luka yang membuat kita tidak mati, namun perihnya mampu
membuat kita tak dapat berjalan seperti dulu lagi…
^Kulihat, tatapan itu masih sama, namun dia tak lagi disisiku
:’)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact