BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Rabu, 16 Oktober 2013

Di Bawah Rimbun Matahari Siang

Di kampus, semua rutinitas yang ada terasa begitu melelahkan, dan perjalanan pulang selalu menjadi sesuatu yang kunanti – nantikan.

Sebelum betul – betul duduk di kursi angkutan kota yang masyarakat Makassar sebut dengan “pete – pete”, sudah menjadi hal biasa bagiku menempuh beberapa langkah menuju tempat pete – pete sejurusan rumahku biasanya mangkal. Hari ini kelihatannya ada yang berbeda, “tapi apa? Apa karena begitu terik?” Pertanyaan - pertanyaan itu kemudian memaksaku melirik kios pedagang kaki lima yang setiap harinya kulewati tanpa pamit, kali ini aku putuskan membeli fresh tea (ini bukan iklan loh yah), sekalian numpang minum beberapa teguk. Di depan kios, terlihat ada beberapa kursi berderat tak rapi, kursi paling pojoklah yang beruntung menjadi kursi incaranku.

Dalam jenak, “sejak kapan terik begitu mengambil perhatian ku? Sepertinya, kemarin ataupun hari ini sama saja, selalu panas”. Kurasa, inilah diriku yang selalu mencari – cari apa yang berbeda hari ini

Meski tanpa jawaban sama sekali, langkahku kembali menembus puluhan anak sd, jejeran daeng bentor (seperti biasa) dan carut – marut anak – anak jalanan. “Anak – anak jalanan?” Kurasa, jawabannya baru saja kutemukan.  Biasanya anak – anak jalanan tidak berkeliaran di lampu merah sekitaran sini, melainkan di lampu merah setelah ini

“ada apa yah?” mata ku menerawang kian kemari, disana.. ada yang berteduh dengan Koran ditangannya, disana lagi.. ada yang duduk diemperan.. ada juga gerombolan anak – anak jalanan yang udah gantinama jadi “pengamen” dengan alat musik seadanya. Pemandangan seperti ini sebenarnya lazim – lazim saja, hanya saja sekitaran sini adalah pertama kalinya menurutku.  itu cukup membuatku sesak dan sesak (aduh.. betah baget sih, ini kan panas, pulang aja bobo’an dik).

Menyadari diintai oleh ku, salah satu diantara banyak mendekatiku menawarkan Koran yang dijualnya. Kutanggapi dengan senyum unyu tapi hatiku kecut berdendang  
“Hah.. pinter banget sih lu dik, emang, emang ane demen Koran kok -_-“
“mau di apain coba? Paling buat pelapis lemari aja, beda dong ceritanya kalau yang ente jual bukunya kak Brili, hahah”

Kuberikan uang sisa pembelian minuman tadi yang belum sempat masuk ditasku, “ambil saja, korannya buat yang lebih bisa memanfaatkannya deh, jangan aku!”, matanya berbingar – bingar menatapku layaknya selebriti (hahay.. jadi salah tingkah). sementara yang lain kelihatannya tidak mau kalah, satu – persatu dari mereka mulai mendekat (wow.. jangan main borong dong).

“aku juga kak” *dengan muka memelas (ngak usah pasang muka gitu juga dong dik, tanpa kau pasang pun aku udah tau kamu gak punya # heheh, kita samaan kok). Aku mulai keteteran, bilang gak ada jelas bohong. Tapi kalau diberi juga, aku besok idupnya pake apa ? pake umput ? seandainya daeng pete – pete terima – terima aja gitu kalau ane kasi rumput, yah gak masalah, hahah

“dik tadi kan temanmu sudah, saling berbagi aja yah? kalau kalian saya beri semua, besok saya kekampusnya pakai apa coba? Saya juga masih minta uang loh sama orang tua, gak kaya kalian yang hebat – hebat, masih kecil udah pada bisa cari duit” caraku menenangkan tuyul – tuyul  yang rambutnya lagi masa pertumbuhan itu, tanpa peduli kalaupun tanggapan mereka (itu sih derita lo kak)heheh..

karena mereka tuyul – tuyul yang cukup baik, setelah mendengar ocehanku mereka bertaburan menuju lampu merah membawa nyengirnya, (kasian juga sih). ada diantaranya yang langsung merebut fresh tea botol dari tangan ku “minta ya kak” dan berlari tanpa mendengar jawabanku. (yah.. itukan masih banyak -_- , huh aku ikhlas deh)

Kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti oleh mereka. seperti kilat, mereka telah bertendeng di tempat semula, dari kejauhan sorot mata mereka tajam mengiringi langkahku berlalu.
Aku tak tau persis berapa banyak pecahan ribuan sisa pembelian fresh tea tadi, 4 ribu mungkin, atau sedikitnya hanya 3 ribu, tapi cukup membuat hatiku terasa mengawang – awang menyaksikan tangan kecil lagi hitam, anak itu menyerobot dari tanganku lekas. Juga cukup membuat siang anak itu tak sia – sia, setidaknya ada sedikit tambahan kehidupan. Dan inilah Rahmat, saat disituasi apapun kita masih dapat memberi, sekaligus menjadi perantara untuk sekecil - kecilnya kebahagiaan orang lain.




1 komentar:

Anonim mengatakan...

:).... :)....

Posting Komentar

apa komentar kamu?

Powered By Blogger
 
;