BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Senin, 18 Mei 2020 0 komentar

‘Berdamai dengan Corona’ Makna Lain dari Herd Immunity






#DakwahNisaSulsel
Andi Mutmainnah Idris (Penulis Buku)

            Kebingungan seperti tak henti hentinya mendera masyarakat di tengah pandemi seperti ini, ulah siapa lagi jika bukan pemerintah. Sampai Rabu kini kita masih bersatu dalam barisan ‘perang’ melawan corona, sebagaimana seruan pemerintah untuk hal tersebut. Hingga pada Kamis, (7/5/2020) panglima perang justru menyeru untuk hidup berdamai dengan corona, padahal belum nampak perlawanan nyata kecuali hanya dagelan-dagelan penawar cemas dan rasa takut. Apakah ini adalah isyarat kekalahan?
            Saat ini, pemerintah daerah masih silih berganti mengajukan PSBB, sedangkan pemerintah pusat justru membelokkan stir dan berencana untuk mengoprasikan kembali sarana transportasi udara maupun darat. Alasannya selalu saja masalah ekonomi, padahal ekonomi siapa yang mereka maksud? Tentu saja bukan masyarakat kelas bawah, kenyataannya, masyarakat hanya menjadi alat panjat sosial mereka. Kacau balaunya prihal bansos kemarin sekiranya bisa menjadi bukti. Alih alih bergegas memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin nyelekit, malah sibuk mencetak nama besar dibalik lembaran kresek, yang nominalnya bisa lebih berharaga bagi masyarakat jika seandainya diuangkan saja.
Disamping itu, melihat kondisi masyarakat yang terjangkit semakin bertambah, harusnya pemerintah berkaca akan penetapan PSBB dari pada lockdown sejak awal. Tentu saja PSBB tidaklah berhasil memutus rantai penularan secara total. Olehnya, ini seharusnya menjadi cermin besar bagi pemerintah untuk mengambil langkah lebih memperketat upaya penanganan dengan melakukan screening massal, lalu menguci pergerakan bagi yang terpapar.
Hanya saja, kembali masyarakat harus menelan pil pahit, menerima kenyataan pemerintah berlepas tanggung jawab menjamin keselamatan jiwa mereka, dalam hal ini diserahkan sepenuhnya kepada individu masing-masing dengan isyarat herd imunnity melalui pernyataan "Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan COVID untuk beberapa waktu ke depan," ujar Pak Jokowi lewat saluran YouTube Setpres, Minggu (7/5).
Meski pada akhirnya, setelah pernyataan tersebut menuai desas-desus, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengonfirmasi pada Jum’at (8/5) "Artinya bahwa covid-19 itu ada, dan kita terus berusaha agar segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena adanya covid-19, menjadikan adanya penyesuaian dalam kehidupan," pernyataan tersebut tidak mengurangi maksud bahwa masyarakat memang harus mandiri dalam melawan covid-19, tanpa ada jaminan Negara dalam hal ini ketika pada akhirnya ternyata terpapar, selain itu Negara sendiri belum ada kepastian terkait keamanan, dalam hal ini minimal vaksinasi. Pernyataan itu juga tak bisa begitu saja menghapuskan pernyataan Pak Jokowi sebelumnya “Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya”. Adalah menyakitkan bagi masyarakat, sebab berarti nyawa mereka kini harus menjadi tumbal, sedikit ataupun banyak, atau meski hanya 1 nyawapun, demi bergeraknya kembali mesin-mesin industri. 
Terkait Herd Imunnity sebenarnya telah diwanti wanti oleh beberapa pakar untuk tidak menjadi pilihan, herd immunity sendiri adalah kondisi saat sejumlah orang dalam populasi dibiarkan terpapar penyakit yang tengah mewabah, kemudian terbentuk antibody dalam tubuhnya akibat telah sembuh dari terjangkit penyakit tersebut. dengan adanya herd immunity memungkinkan laju penyakit akan berhenti. Namun juga berarti harus merelakan sebagian orang meninggal dunia karena lemah imunnya, utamanya lansia, yang memiliki penyakit bawaan, dan anak-anak.
Konsep ini ditentang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Herd immunity disebut bisa sangat fatal dampaknya. "Mungkin saja negara yang kurang menerapkan langkah-langkah, tidak melakukan apapun, tiba-tiba secara ajaib akan mencapai kekebalan kawanan (herd immunity), dan tidak masalah apabila kita kehilangan orang-orang tua selama proses tersebut," kata Direktur Eksekutif Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan, dalam jumpa pers mengenai covid-19, di Jenewa, Swiss, tanggal 11 Mei 2020, sebagaimana disiarkan kanal YouTube United Nations, diakses detikcom pada Rabu (13/5).
Lebih lanjut lagi, herd dalam bahasa Inggris berarti 'kawanan binatang', misalnya kawanan serigala, kawanan domba, atau kawanan burung. WHO menegaskan manusia tak bisa disamakan dengan kawanan binatang. Ryan menjelaskan, pada dasarnya konsep herd immunity adalah cara terakhir mencapai kekebalan tubuh dari virus namun dengan bantuan vaksinasi, bukan dengan cara pembiaran penularan virus terhadap manusia. Konsep herd immunity berisi perhitungan berapa banyak orang yang bisa divaksinasi supaya semuanya bisa kebal. "Maka saya pikir kita perlu sangat berhati-hati ketika menggunakan istilah ini terkait penularan alami dan manusia, karena ini bisa mengarah ke artimetika yang sangat brutal," kata Ryan.
Islam sendiri sangat serius dalam memandang hal demikian, prinsipnya adalah “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalb al mashalih” menjauhi hal yang dapat merusak diri adalah lebih diutamakan daripada mengejar kemaslahatan. Dan tak ada yang lebih utama dalam Islam melebihi nyawa umat itu sendiri. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Sedangkan terhadap dunia Islam memandang, Dari Al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).
Kacaunya penanganan wabah sejak munculnya ini harusnya cukup menjadi bukti kepada masyarakat, bahwa sistem kapitalis memang tak akan pernah pantas dan sanggup meriayah manusia. Umat tak hanya butuh pemimpin muslim. Kenyataannya sistem yang tidak sesuai hukum Islam ini, meski dikemudi oleh wong deso tetap saja rusak dan merusak. Wallahu a’llam

Sumber : https://it-it.facebook.com/Dakwah.Nisa.Sulsel/photos/a.1405552836393748/2685418508407168/?type=3&eid=ARCu9PaFOr_a7l7CN125UxFfaNzxZsa6zFqF1lh2qDajQhCqZd3oHuVHsX5CC5dQg7ej7HZUrhFa4NJr
Rabu, 13 Mei 2020 0 komentar

PSBB, Gerakan Cuci Tangan ala Pemerintah


Andi Mutmainnah Idris 
(Penulis Buku)


            #DakwahNisaSulsel Dewasa ini mencuci tangan memang sangat dianjurkan oleh para ahli yang berkecimpung pada ranah medis, guna menghindari serangan covid-19. Berbeda halnya dengan cuci tangan gaya pemerintah melalui kebijakan yang acakadul, alhasil, mengatasi masalah dengan masalah yang baru.
           Jika kita kilas balik, para pakar sebenarnya telah menampakkan diri bahkan sejak virus ini dinyatakan belum masuk ke Indonesia. Diantaranya tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) mengatakan bahwa data menunjukkan, seharusnya virus corona telah masuk sejak Januari minggu ke-3, sebaiknya dilakukan screening, hal ini tak jauh berbeda dengan peringatan dari Universitas Harvard. Alih alih bergegas, pemerintah malah tampak meremehkan, ini dapat dicermati melalui pemberian diskon pesawat bagi para wisatawan dan mendorong Investasi, di tengah kisruh Negara tetangga yang sibuk melawan pandemi covid ini, tak hanya itu, pada saat yang sama tenaga kerja asing Cina sebagai negara asal virus terus berdatangan, memang seperti mengundang wabah untuk masuk, lalu sibuk berdalih “Indonesia kebal corona”.
            Setelah virus nyata telah masukpun, melalui pengumuman presiden 02 Maret 2020 lengkap dengan kronologisnya, kembali masyarakat bersuara untuk screening lalu lockdown, berkaca pada penanganan kebijakan cepat tanggap Cina yang terbukti tuntas dalam 3 bulan, atau Korea Selatan yang lebih singkat lagi dari pada Cina dalam hal ini. bahkan beberapa pakar Agama ikut menggambarkan penanganan wabah metode Islam menggunakan cara lockdown daerah terpapar dengan mengikuti jejak penularan, sebagaimana yang pernah dicontohkan pada masa Rosulullah maupun pemerintahan khalifah Umar setelahnya. Alih alih melakukan keduanya, demi dianggap melakukan upaya, pemerintah malah mendatangkan rapid test dari Cina, tidak juga untuk screening, karena jumlah yang jauh jika dipadankan jumlah masyarakat Indonesia.
Disamping itu, rapid test kembali menimbulkan kisruh, banyak peneliti dan ahli dibidang medis kembali bersuara, pasalnya, rapid test hanya mendeteksi antibodi bukan RNA virusnya sebagaimana test PCR yang memang jauh lebih mahal, alhasil seorang terpapar yang belum terbentuk antibodi hasilnya akan negatif dengan rapid test, mengingat masa inkubasi virus ini cukup memakan waktu. Dengan demikian, tentu saja membeli alat yang justru malah menjadikan maslah semakin besar, tidak lebih dari aksi membuang buang anggaran Negara. Hal tersebut kini terbukti pada kasus covid ke-5 di Pangkep Sul-Sel, seorang yang terdeteksi negatif pada rapid test saat dibandara akhirnya merasa aman-aman saja dan dibiarkan beraktivitas seperti biasa, alhasil pada hari ke-10 barulah hasilnya menunjukkan positif, jelas kasus semacam ini justru makin menambah kekisruhan baru. Meski masukan masuk akal menyoal rapid test tersebut kembali tak diindahkan pemerintah.
Hingga pada akhirnya pemerintah mengambil jalan cuci tangan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai respon terhadap tudingan lamban dari masyarakat. Pada kenyataannya, Indonesia memang sangat terlambat sekitar 2,5 bulan, dapat dilihat dari pembentukan gugus tugas penanganan covid baru sekitar tanggal 12 Maret 2020, saat covid ini jauh-jauh hari sudah mengacak acak pertahanan 69 negara tetangga. Hari ini, apakah PSBB sebagai langkah akhir benar-benar menjadi solusi terbaik?
Semenjak diberlakukan PSBB dibeberapa titik wilayah Indonesia yang dianggap zona merah, persoalan demi persoalan kembali merebak. Baru-baru ini terjadi banyak pertentangan antara aparat yang bertugas mengamankan dengan sejumlah pedagang. Tidak dipungkiri, masyarakat tentu kebingungan kapan keadaan ini berakhir, sementara jika diamati, meski dengan kasat mata, pemberlakuan PSBB ini sangatlah berbeda dengan lockdown, dengan adanya aktivitas, tentu saja potensi penularan tetap terjadi, hanya melambat. jelas keadaan ini semakin memperlambat kemungkinan untuk kembali normal. Sementara mayoritas rakyat Indonesia yang hidupnya bergantung dari aktivitas perdagangan harus menikmati dilema berat ini, tentu saja, merekapun takut terpapar virus, tapi mati kelaparan bagi mereka jauh lebih mengerikan.
Selain itu, PSBB ini sedikitnya menjelaskan kepada kita betapa rapuhnya tatanan ekonomi Indonesia, juga status Negara maju hanyalah omomng kosong. Inilah jawaban yang tepat mengapa sejak awal sulit untuk menetapkan lockdown, lagi lagi persoalan ekonomi, sebab perbedaan mendasar adalah ketika Negara menetapkan lockdown maka semua kebutuhan rakyat ditanggung oleh Negara. PSBB adalah bentuk cuci tangan dan berlepas tangannya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rakyat, terlebih jika wabah tak kunjung berhenti, pemerintah tinggal mengatakan “Ini ulah rakyat sendiri, karena membandel”.


Solusi Islam Mengatasi Wabah Penyakit
Sebagai umat Islam selayaknya kita meyakini al-Qu’ran adalah petunjuk yang mampu mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari bagun tidur hingga membangun Negara. Melihat hari ini banyak yang berkomentar sumbang ketika ada yang mengaitkan wabah dengan Islam sebagai solusi, tentu saja itu menjadi tolok ukur keberhasilan bidikan sekularisme membangun paham umat Islam dalam rangka memenjarakan ajaran Islam hanya pada ranah nafsiyah saja, juga syiar Islam hanya di sudut-sudut Masjid saja.
Padahal dalam mengatasi wabah Islampun punya solusinya, yakni karantina wilayah (lockdown), total maupun parsial. Sedang selama karantina, semua kebutuhan masyarakat dijamin oleh pemerintah, sehingga tak ada kekhawatiran akan urusan perut dan pekerjaan. Sementara di wilayah steril yang tidak terdampak, roda kehidupan akan terus berjalan.

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR. Bukhari).

“Seseorang yang memiliki unta sakit jangan membiarkan unta tersebut makan dan minum bersama unta yang sehat” (HR.Ibnu Majah)

Hal ini sudah diterapkan 14 abad lampau di masa awal peradaban Islam, dicontohkan langsung oleh Rosulullah SAW lalu kembali diikuti oleh khalifah Umar bin Khattab di masa pemerintahannya. Menurut Profesor Craig Considince dari Rice University, konsep Islam ini adalah pionir di dunia dan tetap efektif hingga masa kini.

“maka Seorang pemimpin adalah pengurus bagi rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang diurusinya” (HR.Muslim).


Sabtu, 02 Mei 2020 0 komentar

/Ramadan Tanpa Raya /




oleh :Andi Mutmainnah Idris
(Penulis buku “Sepenggal Kisah-Secarik Kertas”)

              #Opini
     #MuslimahNewsId Bagi umat Islam, Ramadan adalah momentum perjuangan, sekecil-kecilnya berjuang menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga. Pun ketika kita membaca shirah, tak sedikit momentum Ramadan yang Rosulullah saw dan para sahabatnya tempuh sembari di medan peperangan. Benarlah, Ramadan adalah momen perjuangan.
          Ingatkah kita perang Badar, perang pertama kali saat setelah Daulah Islam berdiri di Madinah yang juga bertepatan 17 Ramadan, dimana kaum Muslim memperoleh kemuliaan kemenangan saat itu. lalu perang Khandaq yang mencekam, melibatkan 3000 pasukan kaum Muslim melawan persekutuan luar biasa 10.000 pasukan musuh yang mengepung Ibu Kota Madinah pada saat itu, atas izin Allah peperangan kembali  dimenangkan oleh kaum Muslim dengan tanpa terjadi pertumpahan darah.
          Begitu juga pada perang di musim panas bertepatan juga musim panen kurma, namun titah untuk berangkat ke medan Tabuk menjadi selalu lebih indah. Bagi kaum muslim perang adalah panggilan ruh, mati baginya syahid sedang menang baginya kemuliaan, itulah mengapa mereka tak gentar meski berjumlah sedikit, justru notabene mereka kerap menggentarkan pasukan musuh dengan jumlah banyak, karena takut akan kematian.
Perang Tabuk ini sebenarnya dimulai bulan Rajab, namun 26 Ramadan barulah Rosulullah saw kembali dari peperangan tersebut, lagi dan lagi dengan membawa kemenangan. Kondisi perang Tabuk ini memang sangat sulit, disamping lawannya adalah tentara Romawi, jarak yang kaum Muslim tempuh juga sangat panjang, yaitu sekitar 670.000 Km di bawah panas terik yang sangat menyengat, tanpa kendaraan yang hari ini kita kenal dengan istilah mobil. Hal itulah mengapa waktu yang dibutuhkan juga tidak sedikit.
Dari kegigihan besertakan keimanan yang dimiliki para pasukan Muslim inilah, yang membuat tidak sulit bagi Allah menganugrahkan kemenangan, tak peduli peralatan perang yang terbatas, atau jumlah pasukan yang sangat jauh dibawah pasukan lawan, toh, shirah selalu membuktikan kepada kita, bahwa jumlah pasukan atau persenjataan hanya penunjang, bukanlah penentu kemenangan di medan perang. Tentu saja tak lepas dari kaidah kausalitas “Ikatlah untamu lalu beriktiar”. Kita semua tahu, mereka besertakan pemimpin yang Mulia, di bawah komando yang satu. Siapa pula yang mampu mengalahkan Rosulullah saw dengan segenap ikhtiar terbaik beserta tawakkal yang paling baik pula, yang harusnya menjadi kiblat setiap Ulil Amri setelahnya.

Ramadan ini, kita kembali berperang
Esensi sebuah perjuangan adalah menang atau kalah. Spesialnya adalah sejarah hari ini menggelitik mata kita melihat umat Islam tak mengenal kekalahan. Dari tahun ke-tahun, Ramadan selalu berbayar raya, semua kita menang, yang berpuasa maupun tidak, semua merayakan kemenangan 30 hari setelahnya. Lalu apakah tahun ini kita kalah?
Benar, hari ini kita diperhadapkan dengan Ramadan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dikutip dalam Kompas.com isi edaran yang diterbitkan Kementrian Agama tentang arahan tarwih di rumah bersama keluarga inti, I’tikaf di masjid ditiadakan, termasuk perayaan Id Fitri yang ditiadakan.
"Surat edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat Muslim di Indonesia dari risiko Covid-19," kata Fachrul melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin.
Tentu saja sebagai umat Islam, perasaan carut marut, sedih, campur aduk kian mendera saat pertama kali membaca edaran tersebut, Ah, sepertinya Allah ingin kita fokus dalam ber-taqorrub kepadanya pada Ramadan tahun ini, tanpa perlu ngabuburit, tanpa perlu sahur on the road, berburu jajanan, dan segala jenis huru hara lainnya, lalu mendapatkan kemenangan yang haqiqi seperti yang didapatkan oleh Rosulullah saw dan para sahabatnya dimasa lalu tatkala usai berperang. Ya, Ramadan tahun ini kaum Muslim kembali berperang, bertempur melawan tentara Covid-19.
Semoga tak menyurutkan semangat kita dalam beribadah, juga pemahaman bahwa kemuliaan Ramadan sama sekali tak berkurang dengan adanya Covid-19 ini. Marhaban yaa Ramadan, selamat datang bulan penuh kemuliaan. Demikianlah disabdakan baginda Nabi saw: “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).

Sedang perayaan sendiri adalah simbol kemenangan, dalam perang ditandai dengan syukur dan berbagi ghanimah,begitpun para Ulama menyimbolkan perayaan Id Fitri sebagai lambang kemenangan kaum Muslim dalam menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga selama 30 hari dalam memenuhi perintah Allah SWT.
Tahun ini tanpa perayaan Id bukan karena kita kalah melawan diri sendiri, sesungguhnya kekalahan kaum Muslimin hari ini karena tak berdiri di atas satu komando, tak memiliki junnah atau pemimpin yang peduli dengan kemashlahatan umat, tak bernaung di bawah Daulah khilafah yang menjadikan hukum Allah yang Maha sempurna sebagai landasan dalam mengatur segala urusan umat, yang telah berlangsung hampir 100 tahun lamanya semenjak diruntuhkan di Turki melalui antek Mustofa Kemal. Sehingga kemenangan dalam peperangan kecil yang seharusnya mudah menjadi kian rumit. Kita semua tahu bahwa Islam memiliki metode serius dalam menghadapi wabah, sebagaimana yang pernah dicontohkan Rosulullah saw, itu yang tidak nampak hari ini.
Ramadan tahun ini harusnya cukup bagi kita untuk belajar dari kekalahan telak yang dirasakan hampir 100 tahun lamanya itu, minimal menjadikan lisan kita tidak bisu dalam menyuarakan Islam warasatul anbiya, hingga cukup bagi Allah menyegerakan pertolonganNya untuk turun, menjadikan ini Ramadan terakhir bagi kaum Muslim, tanpa KHILAFAH. Wallahu a’lam bissawab.—————————————

Silakan share dan follow

—————————————
Berkarya untuk Umat
—————————————
0 komentar

/Senyum Bebas 30.000+ Narapidana di Tengah Wabah, Pantaskah? /

Oleh: Andi Muthmainnah Idris


#MuslimahNewsID -- Sampai hari ini, pandemi corona yang melanda Indonesia dikabarkan semakin menggila dengan korban jiwa yang tidak sedikit, hal tersebut tentunya mengganggu stabilitas ekonomi utamanya pada masyarakat menengah ke bawah. Namun bukannya pemerintah sibuk mengurusi rakyat secara total, malah menyempatkan membebaskan narapidana.
Alasannya diinilai tak masuk akal, dilansir dalam CNN-Indonesia per-Rabu(8/4), pemerintah melalui kemenkumham Yassona Laoly telah membebaskan 33.078 narapidana melalui program asimilasi dan integrasi berkenaan dengan pencegahan penularan covid-19 di lapas. Netizen: “ahh.. pemerintah mah ambil kesempatan saja”.
Memang benar, jika difikirkan lagi, apa hal tersebut semata untuk mencegah penularan di lapas? sedangkan jika narapidana keluar, potensi tertular akan menjadi jauh lebih besar, bahkan bisa menjadi agen penular karena simpang siurnya aturan karantina wilayah di Indonesia. Disamping itu, ditengah perjuangan rakyat sendiri melawan badai corona ini, rasa was-was malah seakan ditambah dengan mengeluarkan mantan pelaku kejahatan.
Pasalnya, siapa yang menjamin mereka tidak kembali melakukan aksi kejahatan, sebab merasakan sendiri hukum Indonesia yang lemah dan banyak diskonnya.
===
Hal tersebut terbukti tidak lama setelahnya, fenomena napi yang baru dibebaskan dan kembali berbuat ulah terjadi di beberapa lokasi. Salah satunya, dilansir dari Kumparan.com, pria bernama Ikhlas(29) dibebaskan pada 2 April, kembali ditangkap pada 7 April karena menerima paket ganja.
Lagi dan lagi penulis mengatakan, pemerintah bukannya sibuk mengurusi wabah yang semakin tak ketulungan, malah sibuk bermain-main. Minimal demi kemanusiaan dan HAM yang malah mereka salurkan kepada narapidana, harusnya mereka mempertimbangkan bahwa lebih dari 30.000 narapidana tersebut, berapa banyak pelaku pembunuhan yang korbannya tak bisa dihidupkan kembali?
Berapa banyak pelaku pemerkosaan yang korbannya menanggung noda seumur hidupnya? Berapa banyak pelaku pencurian yang mungkin korbannya dari kalangan bawah?
Bahkan tak hanya itu, desas desus penghianatan pemerintah perihal dugaan narapidana koruptorpun akan menikmati udara segar terdengar riuh, meski kerap ditepis oleh Yassona sendiri, namun dalam beberapa kesempatan beliau kerap pula mengusulkan merevisi undang-undang khusus tentang tidak adanya remisi untuk pelaku kejahatan luarbiasa tersebut.
===
Dilansir dalam tirto.id, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Donal Farizpun menilai Yasonna tengah memanfaatkan situasi. Dasarnya, usul agar PP 99/2012 direvisi tidak muncul kali ini saja. Yasonna pernah mengusulkan ini pada 2016 lalu. Menurut ICW, selama 2015-2019, Yasonna sudah empat kali mengatakan mau merevisi peraturan tersebut. "Ini kerjaan dan agenda lama yang tertunda. Corona menjadi justifikasi saja".
Lagi pula, sudah menjadi rahasia umum, napi koruptor di Lapas Sukamiskin mendapat kamar per-orang. Mereka di kamar tentu terisolasi, tidak seperti di Rutan Cipinang. Belum lagi jika berbicara fasilitas mereka di kamar tersebut.
Kenyataan ini saja tentulah sangat melukai hati masyarakat, bagaimana mungkin, orang yang harusnya dihukum atas tindak kejahatan, tapi malah mendapatkan fasilitas. Dan lagi, apa jadinya jika para perampok uang rakyat ini malah harus mendapatkan remisi-remisi klise? Bapak-bapak berwenang, tolong jangan khianati kami!
===
Islam dalam menetapkan hukum bagi narapidana
Islam menetapkan jenis hukuman yang berbeda untuk kasus yang berbeda, tentu saja dengan melibatkan nash. Dalam Islam, hukuman dibagi atas tiga macam, hudud, qishas dan diyat, serta ta’zir. Ketiga macam hukuman tersebut mempunyai bentuk dan sifat hukuman yang berbeda-beda, pada hudud telah ditetapkan bentuk hukumannya sebagai hak Allah.
Adapun qishas dan diyat merupakan bentuk hukuman yang merupakan hak manusia, artinya manusia dapat merubah bentuk hukumannya dari qishas kepada diyat bila ada maaf.
Sedangkan ta’zir marupakan hukuman atas kejahatan yang tidak disebutkan nash, sehingga hukumannya diserahkan kepada khalifah.
Al-Qur’an telah mengelompokkan yang termasuk hudud antara lain, Zina, Menuduh berzina, Meminum khamar, Mencuri, Terorisme , Murtad dan Memberontak. Qishas antara lain, Pembunuhan sengaja, Pembunuhan semi sengaja, Pembunuhan tersalah, Penganiyaan sengaja, dan Penganiyaan tidak sengaja.
Hukuman dalam Islam pun mengenal Istilah kurungan, hanya saja untuk kasus kecil, inilah yang termasuk dalam kategori ta’zir, Syaikh Abdurrahman dalam buku “Sistem Sanksi dalam Islam” menjelaskan bahwa pemenjaraan memiliki arti menghalangi seseorang untuk mengatur diri sendiri. Artinya, kebebasan atau kemerdekaan individu benar-benar sebatas apa yang dibutuhkannya sebagai seorang manusia.
Karena itu, penjara harus memberi rasa takut bagi orang yang dipenjara. Tidak boleh ada lampu yang terang dan segala jenis hiburan, termasuk alat komunikasi. Namun demikian, bukan berarti negara bersikap tidak manusiawi. Seorang narapidana, tetap mendapatkan asupan, boleh beristirahat, boleh dikunjungi keluarga atau kerabat, bahkan jika dipandang perlu untuk mendatangkan istri narapidana, hal itu diperbolehkan. Tentu dengan melihat bagaimana perilaku si narapidana dan latar belakangnya.
Jadi, sungguh sangat manusiawi. Bahkan di masa Khalifah Harun al-Rasyid, narapidana diberikan pakaian secara khusus. Jika musim panas tiba, diberikan pakaian berbahan katun, sedangkan pada musim dingin pakaiannya dari bahan wol.
===
Dari penggambaran tersebut sangatlah jelas, narapidana korupsi masuk dalam kasus pencurian, maka mereka akan dipotong tangannya. Sehingga, dampak dari penerapan hukum Islam sebagai zawajir(pencegah). Yakni, mencegah pelaku mengulangi perbuatannya atau orang lain untuk melakukan kejahatan serupa. Juga sebagai jawabir (penebus) dosa bagi mereka. Sebab, setiap kejahatan yang dilakukan secara sadar merupakan dosa, dan mengundang siksa atau adzab. Namun, sanksi dari hukum Islam akan mampu menebusnya. Karena itulah, Ma’iz bin Malik al-Aslami mengakui perzinaannya kepada Rasulullah dan meminta dirajam.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku”. Setelah Rasulullah memastikan pengakuannya benar, maka Rasulullahpun merajamnya hingga meninggal dunia.
Pada akhirnya, Meski tidak pantas rasanya, ketika hukum Islam yang berasal dari sang pencipta disandingkan dengan hukum rusak akal-akalan manusia, sebagaimana perkataan Allah:
”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS Al Maidah: 50)
Cukuplah beberapa peristiwa belakangan ini menjadi teguran, dan pengingat bahwa tak ada hukum terbaik dan pantas mengatur manusia yang mereka sendiri adalah ciptaan, selain hukum dari penciptanya, dan agar kita bergegas kembali. Allahu’allam bissawab.
jangan lupa folow : MuslimahNewsId
—————————————
Berkarya untuk Umat
Senin, 13 April 2020 0 komentar

E-SPORT DIGALAKKAN GO KURIKULUM, NASIB GENERASI MAU DIKEMANAKAN?


Industri Games, kini menjadi salah satu bisnis menggiurkan dikalangan pebisnis. Bahkan banyak pemodal yang rela menyisihkan modalnya untuk bisnis ini. Bukan hanya games aksi, kini games olahraga elektronik atau biasa disebut esport kian dikembangkan dalam bisnis ini. Seperti yang diutarakan dalam debat capres cawapres lalu yang menyatakan nilai ekonomi e-Sport tumbuh sangat pesat. Catatan di tahun 2017, perputarannya 11-12 triliun, per tahun tumbuh 35 persen. Oleh sebab itu, pemerintah terus menggencarkan pembangunan infrastruktur langit seperti Palapa Ring untuk menunjang permainan tersebut karena banyak keuntungan yang dihasilkan di sana (https://www.idntimes.com/news/indonesia/fitang-adhitia/jokowi-industri-esport-tumbuh-pesat-di-indonesia/full). Bahkan menurut Jokowi, perubahan global yang terjadi saat ini, seperti artificial intelligence (AI), internet of things, virtual reality, dan bitcoin. Ini juga sama, ini sebuah profesi yang anak muda menyenangi sehingga pemerintah akan membangun infrastruktur digital. (https://m.liputan6.com/pilpres/read/3941093/jokowi-industri-game-memiliki-peluang-besar-di-indonesia)
Pun juga telkom Indonesia memiliki ambisi besar untuk menjadi pemain besar di industri game Indonesia. Dalam acara Telkom DigiSummit di Jakarta (11/4), Telkom memaparkan kerangka bisnis di beragam sektor hiburan dan pendidikan. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah industri game. Ambisi di industri gaming berdasarkan pada tren game, khususnya mobile, yang sedang menjadi perhatian besar sejumlah masyarakat. Disampaikan oleh Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom, industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya. “Gaming itu pendapatannya bisa tujuh kali lipat dari pendapatan sebuah film,” terang Jody. (http://marketeers.com/telkom-serius-garap-industri-game-dalam-negeri/)
Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko berujar, "Indonesia ini peringkat ke-16 untuk industri game. Tahun 2017 itu, nilainya sampai 79,7 juta dollar AS berdasarkan data dari Bekraf. Presiden ingin esport ini semakin berkembang, semakin baik bagi perekonomian nasional dan ikut mewujudkan visi Indonesia yang modern." (https://amp.kontan.co.id/news/industri-game-bernilai-us-797-juta-pemerintah-gelar-turnamen-mobile-legend).
Adapun Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi berpendapat e-sport harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. "Kurikulum harus masuk di sana, pelatihnya harus masuk di sana. Kalau sudah seperti itu, tentu harus bekerja sama, harus kolaborasi," kata Imam saat ditemui pewarta di Sekretariat Kabinet, Jakarta, Senin (28/1). Selain itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyebut sudah menganggarkan Rp50 miliar untuk menggelar kompetisi-kompetisi di level sekolah. (https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190128182128-185-364527/menpora-harap-e-sport-masuk-kurikulum-sekolah)
Hal ini tentu mengundang tanya baru, tepatkah memandang e-sport sebagai sebuah aktivitas olahraga? Lalu, sebegitu pentingnya kah game online -meski berlabel e-sport- bagi kehidupan berbangsa dan bernegara?

Kerakusan kapitalisme
Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani. (https://pengertianahli.id/2013/08/pengertian-olahraga-apa-itu-olahraga.html )
Apakah e-sport memenuhi kriteria dalam pengertian tersebut? Sedangkan kenyataannya pemain e-sport lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk di depan layar monitor, sebagaimana lazimnya permainan game online.
Dalam kapitalisme, pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya menjadi harga mati untuk mereka. Meskipun itu menabrak rambu-rambu norma bahkan peraturan Agama. Mereka tidak akan peduli meskipun itu berdampak buruk bagi pelajar. Sehingga dapat dipastikan, sport yang dimaksud di sini hanyalah bungkusan agar game ini dapat terlihat menarik.
Di saat perhitungan bisnis yang menjadi mindset pemerintah, maka perhitungan mengenai dampaknya pada kesehatan dan kualitas generasi hanyalah nomer sekian. Padahal para ahli kesehatan telah banyak meneliti dampak negatif game online bagi kesehatan jiwa fisik dan psikis manusia.
Bahkan Menurut WHO, bermain game disebut sebagai gangguan mental ketika permainan itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan. "Sudah banyak cukup bukti yang menunjukkan kecanduan game dapat menimbulkan masalah kesehatan," tulis WHO dalam situs resminya.( https://sains.kompas.com/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental)
Sebagaimana dikutip dari Bisnis.com (09/07/2018), dr Kristiana Siste, SpKJ (K) dari Departemen Psikiatri FK UI RSCM memaparkan, “Struktur dan fungsi otaknya mengalami perubahan. Jadi, kalau kita lihat otaknya pake MRI, ada perubahan di bagian otak pre-frontal cortex”. Di sisi lain, pecandu seringkali mengalami gangguan tidur sehingga mempengaruhi sistem metabolisme tubuhnya, serta berpotensi menjadi sosok individu . (https://m.bisnis.com/amp/read/20180709/220/814364/waspada-inilah-dampak-kecanduan-game-online)
Bahkan Badan World Health Organization (WHO) PBB memasukkan kecanduan game sebagai salah satu penyakit gangguan mental (mental disorder) (https://amp.kompas.com/sains/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental?)
Islam adalah diin yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Kesesuaiannya dengan fitrah manusia juga terlihat dari perhatiannya terhadap kesehatan, baik fisik maupun psikis. Karena kesehatan merupakan salah satu unsur penunjang utama dalam melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan bekerja serta aktivitas lainnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Bahwa Rasulullah bersabda “Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah”.
Bagi seorang muslim yang menyandarkan hidupnya pada aturan Islam, permainan hanyalah selingan penghilang penat. Oleh karena itu, tidak boleh melalaikan dan melanggar Syariat. Tidak boleh pula melakukan permainan yang menghabiskan waktu dan tenaga sehingga mengalihkan pengabdian pada Allah sebagai fokus hidupnya. Terlebih jika terbukti permainan yang dilakukan merusak kesehatan dan mengandung konten negatif, sebagaimana acapkali ditemukan dalam game online.
Islam juga memberikan perhatian terhadap permasalahan olahraga (riyadhoh) sebagai salah satu cara membentuk tubuh yang kuat dan sehat. Dalam sirah Nabi , kisah perlombaan lari antara Rasulullah dan Aisyah pun menjadi contoh populis dalam olahraga. Rasulullah juga menyebutkan bentuk olahraga berenang, berkuda dan memanah sebagai sesuatu yang tidak sia-sia.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda,"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).
Namun demikian, tidak sepantasnya menjadikan permainan dan olahraga sebagai ajang industri, bukan pula salah satu pos penerimaan negara. Karena sejatinya permainan hanyalah selingan pelepas lelah. Sedangkan olahraga adalah sarana untuk meningkatkan ketahanan fisik dan psikis dalam rangka persiapan dakwah dan jihad menyebar risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Demikianlah, kita bisa membayangkan seandainya permainan dan olahraga dijadikan ajang industri, terlebih oleh negara, maka generasi muda yang terbangun akan kehilangan makna hidupnya. Mereka tumbuh menjadi generasi lemah, terlena oleh kehidupan dunia dan kebahagiaan semu. Bahkan dampak bagi umat Islam, mereka akan lupa hakikat dirinya sebagai khoiru ummah (umat terbaik). Lalu mana mungkin mampu membangun peradaban unggul yang akan menebar kerahmatan Islam ke seluruh penjuru dunia?

Khilafah pencetak generasi emas
Kurikulum adalah hal yang penting dalam mencetak generasi. Negeri kita saat ini sudah bolak balik berganti kurikulum. Kita bisa melihat bagaimana produk dari sistem pendidikan negara kita. Mulai dari yang split personality, gaul bebas, pemberi harapan palsu, pacaran, hamil diluar nikah, membully orangtua dan guru, dan lainnya. Memang ada dari pelajar yang memenangi berbagai lomba tingkat internasional, tetapi itu tidak mampu menutupi kelamnya potret pelajar masa kini. Termasuk mereka yang tidak mampu mengontrol dirinya dalam penggunaan teknologi yang berujung kepada generasi apatis, pembangkang bahkan lupa untuk beribadah juga mengkaji Islam. Terlebih banyak muatan dalam kurikulum yang merupakan pesanan asing.
Kitapun tak boleh luput, esport ini jua adalah rakitan asing,
Dalam sistem Khilafah Islam, pendidikan merupakan hajat atau kebutuhan dasar bagi setiap warga negara. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang akan memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu terapan dan memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Dalam sistem Islam, tanggung jawab penyelenggaraan proses pendidikan ada pada negara, dalam hal ini adalah seorang Khalifah. “Seorang Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kurikulum adalah hal yang penting. Oleh karenanya negara juga hadir menyiapkan standar kurikulum, yakni kurikulum yang terintegrasi dengan Akidah Islam, menetapkan metode pembelajaran yang baku dalam proses belajar mengajar. Menyediakan pula tenaga pengajar yang berkualitas berikut kompensasi kesejahteraannya yang mencukupi. Negara juga mendorong dan memfasilitasi orang tua untuk meningkatkan kemampuannya mendidik anaknya agar tercapai output pendidikan yang diharapkan. Yakni lahirnya individu-individu terbaik yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah, Faqih fii ad-Din, terdepan dalam sains dan teknologi serta berjiwa pemimpin.
Kurikulum Islam berhasil mencetak para ilmuwan dengan teknologi terapan yang menginspirasi perkembangan teknologi dunia. Ilmuwan bukan sembarang ilmuwan tetapi ilmuwan yang senantiasa berpikir bagaimana ilmu terapan tersebut bermanfaat untuk umat. Para ilmuwan akan menjadikan standar hukum syara dalam pengembangan teknologi yang dilakukan dengan penggunaan sarana yang memadai. Pelajar sangat senang dan tidak terbebani dalam menuntut ilmu karena semua fasilitas memadai dalam mengembangkan potensi mereka disamping mereka pun diberi uang saku dan fasilitas lengkap selama bersekolah. Mereka sangat dihargai sekecil apapun kontribusi mereka. Hal itu ditempuh juga dengan melengkapi sekolah-sekolah, akademi-akademi dan universitas-universitas dengan perlengkapan yang dibutuhkan seperti laboratorium dan berbagai sarana pendidikan yang sesuai.
Dalam masing-masing periode sekolah, di dalamnya terdapat materi pokok dan keterampilan dan kerajinan yang disiapkan. Didalamnya diperhatikan perbedaan kemampuan individual para siswa. Ini dimaksudkan untuk efisiensi waktu belajar dan prestasi yang dimiliki. Jadi tidak ada anak yang merasa terbebani ketika sekolah, mereka bahagia sehingga tidak perlu ada pelampiasan dengan melakukan hal yang kurang baik hanya untuk sekadar merelakskan diri.
Ujian dilakukan secara lisan untuk melihat pemahaman siswa. Dalam Khilafah Islam, siswa tidak disibukkan dengan sekadar soal yang rumit seperti saat ini dengan soal berstandar HOTS, atau mengejar berstandar PISA, namun tidak berkorelasi dengan pemahaman dan pola sikap siswa. Di akhir jenjang sekolah, setelah seorang siswa berhasil menyelesaikan 36 periode, siswa tersebut dapat mengikuti ujian umum yaitu “Ujian Umum untuk seluruh jenjang sekolah”. Seorang siswa juga dapat menyelesaikan jenjang sekolah dengan berhasil tanpa harus mengikuti ujian umum. Di dalam negara Khilafah akan ada akademi industri dan kejuruan yang tidak mensyaratkan kelulusan seorang siswa dari ujian umum untuk seluruh jenjang sekolah.
Khilafah Islam memperhatikan pentingnya sekolah kejuruan untuk mempersiapkan paket seni dan keterampilan dalam spesialisasi yang tidak membutuhkan kedalaman ilmu pengetahuan seperti kerajinan kayu, pandai besi, menjahit, memasak, dll. Bagi siswa yang tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan sekolah dikarenakan satu dan lain hal, bisa meninggalkan pendidikan sekolah setelah menyelesaikan periode belajar yang ke dua puluh empat, dan mendaftarkan diri pada lembaga pendidikan kejuruan untuk mempelajari salah satu dari spesialisasi yang ada. Para pakar akan menetapkan lamanya pendidikan di setiap jurusan dan karakter dari materi yang akan dipelajari siswa termasuk keahlian yang diperlukan untuk medalami ketrampilan tersebut. Setelah kelulusannya, siswa akan akan diberi sertifikat yang diberi nama “Sertifikat ketrampilan” di bidang yang didalami seperti menjahit, memasak, dll.
Dengan demikian, sistem pendidikan dalam Khilafah Islam adalah pendidikan yang berkualitas dan mengembangkan potensi para pelajarnya. Inilah solusi hakiki yang akan mengantarkan generasi kuat, cerdas, berkepribadian Islam yang utuh, terdepan dan mampu memimpin bangsa-bangsa lainnya. Tidak ada lagi generasi yang meninggikan satu bidang dengan meninggalkan bidang yang lain. Semua berjalan beriringan sesuai dengan kaidah syara’. Semoga firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam QS Ali Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan berimanlah kepada Allah…” akan segera terwujud dalam waktu dekat. Allahu a’lam.
Powered By Blogger
 
;