BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Sabtu, 02 Mei 2020

/Ramadan Tanpa Raya /




oleh :Andi Mutmainnah Idris
(Penulis buku “Sepenggal Kisah-Secarik Kertas”)

              #Opini
     #MuslimahNewsId Bagi umat Islam, Ramadan adalah momentum perjuangan, sekecil-kecilnya berjuang menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga. Pun ketika kita membaca shirah, tak sedikit momentum Ramadan yang Rosulullah saw dan para sahabatnya tempuh sembari di medan peperangan. Benarlah, Ramadan adalah momen perjuangan.
          Ingatkah kita perang Badar, perang pertama kali saat setelah Daulah Islam berdiri di Madinah yang juga bertepatan 17 Ramadan, dimana kaum Muslim memperoleh kemuliaan kemenangan saat itu. lalu perang Khandaq yang mencekam, melibatkan 3000 pasukan kaum Muslim melawan persekutuan luar biasa 10.000 pasukan musuh yang mengepung Ibu Kota Madinah pada saat itu, atas izin Allah peperangan kembali  dimenangkan oleh kaum Muslim dengan tanpa terjadi pertumpahan darah.
          Begitu juga pada perang di musim panas bertepatan juga musim panen kurma, namun titah untuk berangkat ke medan Tabuk menjadi selalu lebih indah. Bagi kaum muslim perang adalah panggilan ruh, mati baginya syahid sedang menang baginya kemuliaan, itulah mengapa mereka tak gentar meski berjumlah sedikit, justru notabene mereka kerap menggentarkan pasukan musuh dengan jumlah banyak, karena takut akan kematian.
Perang Tabuk ini sebenarnya dimulai bulan Rajab, namun 26 Ramadan barulah Rosulullah saw kembali dari peperangan tersebut, lagi dan lagi dengan membawa kemenangan. Kondisi perang Tabuk ini memang sangat sulit, disamping lawannya adalah tentara Romawi, jarak yang kaum Muslim tempuh juga sangat panjang, yaitu sekitar 670.000 Km di bawah panas terik yang sangat menyengat, tanpa kendaraan yang hari ini kita kenal dengan istilah mobil. Hal itulah mengapa waktu yang dibutuhkan juga tidak sedikit.
Dari kegigihan besertakan keimanan yang dimiliki para pasukan Muslim inilah, yang membuat tidak sulit bagi Allah menganugrahkan kemenangan, tak peduli peralatan perang yang terbatas, atau jumlah pasukan yang sangat jauh dibawah pasukan lawan, toh, shirah selalu membuktikan kepada kita, bahwa jumlah pasukan atau persenjataan hanya penunjang, bukanlah penentu kemenangan di medan perang. Tentu saja tak lepas dari kaidah kausalitas “Ikatlah untamu lalu beriktiar”. Kita semua tahu, mereka besertakan pemimpin yang Mulia, di bawah komando yang satu. Siapa pula yang mampu mengalahkan Rosulullah saw dengan segenap ikhtiar terbaik beserta tawakkal yang paling baik pula, yang harusnya menjadi kiblat setiap Ulil Amri setelahnya.

Ramadan ini, kita kembali berperang
Esensi sebuah perjuangan adalah menang atau kalah. Spesialnya adalah sejarah hari ini menggelitik mata kita melihat umat Islam tak mengenal kekalahan. Dari tahun ke-tahun, Ramadan selalu berbayar raya, semua kita menang, yang berpuasa maupun tidak, semua merayakan kemenangan 30 hari setelahnya. Lalu apakah tahun ini kita kalah?
Benar, hari ini kita diperhadapkan dengan Ramadan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dikutip dalam Kompas.com isi edaran yang diterbitkan Kementrian Agama tentang arahan tarwih di rumah bersama keluarga inti, I’tikaf di masjid ditiadakan, termasuk perayaan Id Fitri yang ditiadakan.
"Surat edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat Muslim di Indonesia dari risiko Covid-19," kata Fachrul melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin.
Tentu saja sebagai umat Islam, perasaan carut marut, sedih, campur aduk kian mendera saat pertama kali membaca edaran tersebut, Ah, sepertinya Allah ingin kita fokus dalam ber-taqorrub kepadanya pada Ramadan tahun ini, tanpa perlu ngabuburit, tanpa perlu sahur on the road, berburu jajanan, dan segala jenis huru hara lainnya, lalu mendapatkan kemenangan yang haqiqi seperti yang didapatkan oleh Rosulullah saw dan para sahabatnya dimasa lalu tatkala usai berperang. Ya, Ramadan tahun ini kaum Muslim kembali berperang, bertempur melawan tentara Covid-19.
Semoga tak menyurutkan semangat kita dalam beribadah, juga pemahaman bahwa kemuliaan Ramadan sama sekali tak berkurang dengan adanya Covid-19 ini. Marhaban yaa Ramadan, selamat datang bulan penuh kemuliaan. Demikianlah disabdakan baginda Nabi saw: “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).

Sedang perayaan sendiri adalah simbol kemenangan, dalam perang ditandai dengan syukur dan berbagi ghanimah,begitpun para Ulama menyimbolkan perayaan Id Fitri sebagai lambang kemenangan kaum Muslim dalam menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga selama 30 hari dalam memenuhi perintah Allah SWT.
Tahun ini tanpa perayaan Id bukan karena kita kalah melawan diri sendiri, sesungguhnya kekalahan kaum Muslimin hari ini karena tak berdiri di atas satu komando, tak memiliki junnah atau pemimpin yang peduli dengan kemashlahatan umat, tak bernaung di bawah Daulah khilafah yang menjadikan hukum Allah yang Maha sempurna sebagai landasan dalam mengatur segala urusan umat, yang telah berlangsung hampir 100 tahun lamanya semenjak diruntuhkan di Turki melalui antek Mustofa Kemal. Sehingga kemenangan dalam peperangan kecil yang seharusnya mudah menjadi kian rumit. Kita semua tahu bahwa Islam memiliki metode serius dalam menghadapi wabah, sebagaimana yang pernah dicontohkan Rosulullah saw, itu yang tidak nampak hari ini.
Ramadan tahun ini harusnya cukup bagi kita untuk belajar dari kekalahan telak yang dirasakan hampir 100 tahun lamanya itu, minimal menjadikan lisan kita tidak bisu dalam menyuarakan Islam warasatul anbiya, hingga cukup bagi Allah menyegerakan pertolonganNya untuk turun, menjadikan ini Ramadan terakhir bagi kaum Muslim, tanpa KHILAFAH. Wallahu a’lam bissawab.—————————————

Silakan share dan follow

—————————————
Berkarya untuk Umat
—————————————

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar kamu?

Powered By Blogger
 
;