oleh :Andi
Mutmainnah Idris
(Penulis
buku “Sepenggal Kisah-Secarik Kertas”)
#Opini
#MuslimahNewsId Bagi umat Islam, Ramadan adalah
momentum perjuangan, sekecil-kecilnya berjuang menahan hawa nafsu, lapar dan
dahaga. Pun ketika kita membaca shirah, tak sedikit momentum Ramadan yang Rosulullah saw dan para
sahabatnya tempuh sembari di medan peperangan. Benarlah, Ramadan adalah momen
perjuangan.
Ingatkah kita perang Badar, perang pertama kali saat setelah Daulah
Islam berdiri di Madinah yang juga bertepatan 17 Ramadan, dimana kaum Muslim
memperoleh kemuliaan kemenangan saat itu. lalu perang Khandaq yang mencekam, melibatkan 3000 pasukan kaum Muslim melawan
persekutuan luar biasa 10.000 pasukan musuh yang mengepung Ibu Kota Madinah
pada saat itu, atas izin Allah peperangan kembali dimenangkan oleh kaum Muslim dengan tanpa
terjadi pertumpahan darah.
Begitu juga pada perang di musim panas
bertepatan juga musim panen kurma, namun titah untuk berangkat ke medan Tabuk menjadi selalu lebih indah. Bagi
kaum muslim perang adalah panggilan ruh,
mati baginya syahid sedang menang
baginya kemuliaan, itulah mengapa mereka tak
gentar meski berjumlah sedikit, justru notabene mereka kerap menggentarkan pasukan
musuh dengan jumlah banyak, karena takut akan kematian.
Perang Tabuk
ini sebenarnya dimulai bulan Rajab, namun 26 Ramadan barulah Rosulullah saw
kembali dari peperangan tersebut, lagi dan lagi dengan membawa kemenangan.
Kondisi perang Tabuk ini memang
sangat sulit, disamping lawannya adalah tentara Romawi, jarak yang kaum Muslim
tempuh juga sangat panjang, yaitu sekitar 670.000 Km di bawah panas terik yang
sangat menyengat, tanpa kendaraan yang hari ini kita kenal dengan istilah
mobil. Hal itulah mengapa waktu yang dibutuhkan juga tidak sedikit.
Dari kegigihan besertakan keimanan yang dimiliki
para pasukan Muslim inilah, yang membuat tidak sulit bagi Allah menganugrahkan
kemenangan, tak peduli peralatan
perang yang terbatas, atau jumlah pasukan yang sangat jauh dibawah pasukan
lawan, toh, shirah selalu membuktikan kepada kita, bahwa jumlah pasukan atau
persenjataan hanya penunjang, bukanlah penentu kemenangan di medan perang.
Tentu saja tak lepas dari kaidah
kausalitas “Ikatlah untamu lalu beriktiar”. Kita semua tahu, mereka besertakan
pemimpin yang Mulia, di bawah komando yang satu. Siapa pula yang mampu
mengalahkan Rosulullah saw dengan segenap ikhtiar
terbaik beserta tawakkal yang paling baik pula, yang harusnya menjadi kiblat
setiap Ulil Amri setelahnya.
Ramadan ini,
kita kembali berperang
Esensi sebuah perjuangan adalah menang atau kalah.
Spesialnya adalah sejarah hari ini menggelitik mata kita melihat umat Islam tak mengenal kekalahan. Dari tahun
ke-tahun, Ramadan selalu berbayar raya, semua kita menang, yang berpuasa maupun
tidak, semua merayakan kemenangan 30 hari setelahnya. Lalu apakah tahun ini
kita kalah?
Benar, hari ini kita diperhadapkan dengan Ramadan
yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dikutip dalam Kompas.com isi edaran
yang diterbitkan Kementrian Agama tentang arahan tarwih di rumah bersama keluarga inti, I’tikaf di masjid ditiadakan, termasuk perayaan Id Fitri yang
ditiadakan.
"Surat edaran ini dimaksudkan
untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan syariat Islam sekaligus
mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat Muslim
di Indonesia dari risiko Covid-19," kata Fachrul melalui keterangan
tertulis yang diterima Kompas.com, Senin.
Tentu saja sebagai umat Islam,
perasaan carut marut, sedih, campur aduk kian mendera saat pertama kali membaca
edaran tersebut, Ah, sepertinya Allah
ingin kita fokus dalam ber-taqorrub
kepadanya pada Ramadan tahun ini, tanpa perlu ngabuburit, tanpa perlu sahur on
the road, berburu jajanan, dan segala jenis huru hara lainnya, lalu
mendapatkan kemenangan yang haqiqi seperti
yang didapatkan oleh Rosulullah saw dan para sahabatnya dimasa lalu tatkala
usai berperang. Ya, Ramadan tahun ini kaum Muslim kembali berperang, bertempur
melawan tentara Covid-19.
Semoga tak menyurutkan semangat
kita dalam beribadah, juga pemahaman bahwa kemuliaan Ramadan sama sekali tak
berkurang dengan adanya Covid-19 ini. Marhaban yaa Ramadan, selamat
datang bulan penuh kemuliaan. Demikianlah disabdakan baginda Nabi saw: “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan
atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu
Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah
malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Siapa yang dihalangi dari
kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad dalam
Al-Musnad (2/385).
Sedang perayaan sendiri adalah simbol kemenangan,
dalam perang ditandai dengan syukur dan berbagi ghanimah,begitpun para Ulama menyimbolkan perayaan Id Fitri sebagai
lambang kemenangan kaum Muslim dalam menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga
selama 30 hari dalam memenuhi perintah Allah SWT.
Tahun ini tanpa perayaan Id bukan karena kita kalah
melawan diri sendiri, sesungguhnya kekalahan kaum Muslimin hari ini karena tak berdiri di atas satu komando, tak memiliki junnah atau pemimpin yang peduli dengan kemashlahatan umat, tak bernaung di bawah Daulah khilafah
yang menjadikan hukum Allah yang Maha sempurna sebagai landasan dalam mengatur
segala urusan umat, yang telah berlangsung hampir 100 tahun lamanya semenjak
diruntuhkan di Turki melalui antek Mustofa Kemal. Sehingga kemenangan dalam
peperangan kecil yang seharusnya mudah menjadi kian rumit. Kita semua tahu
bahwa Islam memiliki metode serius dalam menghadapi wabah, sebagaimana yang pernah
dicontohkan Rosulullah saw, itu yang tidak nampak hari ini.
Ramadan tahun ini harusnya cukup bagi kita untuk
belajar dari kekalahan telak yang dirasakan hampir 100 tahun lamanya itu, minimal
menjadikan lisan kita tidak bisu dalam menyuarakan Islam warasatul anbiya, hingga cukup bagi Allah menyegerakan
pertolonganNya untuk turun, menjadikan ini Ramadan terakhir bagi kaum Muslim,
tanpa KHILAFAH. Wallahu a’lam bissawab.—————————————
Silakan share dan follow
—————————————
Berkarya untuk Umat
—————————————



0 komentar:
Posting Komentar
apa komentar kamu?