BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Senin, 11 November 2013 2 komentar

Jika CINTA tak Berlogika


Pernah dengar “pepatah cinta tak berlogika”?, setuju banget.. demikian aku tak pernah mengerti cinta dengan baikk,,
yang ku tau..
Cinta adakalanya indah, terkadang pula sebaliknya..

Apa sih yang membuat prakara “cinta tak berlogika” akhirnya mengambil bagian pada perjalanan yang disebut CINTA ? Pahamilah, itu terjadi jika perasaan mendominasi dan logika memilih mangkal di urutan sekian, sekian, sekian..
Hal yang tak sesuaipun diwajar2kan. Hingga bermuara pada penyisaan derai urai air mata serta gerutu “seandainya – seandainya” yang sudah tak berguna sama sekali.

Disesi kali ini, sebagai postingan pembuka di bulan November.. pembahasannya tak akan jauh – jauh pada model cinta yang membuat penikmatnya nyeri, perih, semriwing dan semacamya..

Sadar atau tidakk guys, pada beberapa kejadian kita temukan hati – hati yang tercecer dimana – mana.. dan  kata “galau” ditemukan disemua tempat.
#untuk setiap pengorbanan yang berlebihan diluar batas, yang disebutnya pengorbanan cinta.
Yaelah.. pengorbanan sih pengorbanan . Yang sewajarnya aja dong, yang masuk logika gitu! Disbut suami/istri aja belum :P. Istilahnya begini guys, hanya agar cinta kalian tak menjadi ajang atau alasan untuk “memanfaatkan”.

#selanjutnya, untuk setiap cinta yang terhianati, mereka menyebutnya selingkuh.. disinilah letak logika mengajarkan “balack list name”, namun jika cinta mengajarkan “tak berlogika” maaf akan menjulur setulus –tulusnya,
Fikir aja deh, maaf sih maaf.. tapi gak harus balik juga kan?  Kita juga harus punya komitmen dong,, hatimu terlalu besar untuk menyimpan satu nama peselingkuh!
Dan masih banyak contoh lainnya..

Nah..Jika demikian guys, maka tinggalkan dia..
Say No To “aku tak bisa!”

ibaratkan biasan wajah mu didalam cermin!
jangan pernah tertipu,
dengan kecocokan, keserasian, dan kesamaan dirimu denganan seseorang yang selalu kau saksikan dibalik disana..
sesungguhnya dia hanya bayangan..

jangan pernah mengira,
kau tak bisa tuk tidak melihatnya..
karena kau hanya butuh memalingkan wajah dan pergi jauh dari hadapannya
"untuk menghapus biasnya"


 LOVE YOU ALL ;)
          ^aina^
Sabtu, 26 Oktober 2013 2 komentar

Jadilah Sewajarnya



hujan masih menampakkan wajahnya rintik malu - malu sore itu, seolah enggan berbagi sejuknya. Sejauh ini aku tak pernah ada masalah dengan hujan, walau kerap kali ia mencoba menghalangiku untuk beberapa keperluan.
aku memang suka hujan, tapi sore itu, aku memilih hanya sekedar meratapi desahnya yang sejuk, tak hendak berlari berbasahkan air, aku bukan lagi balita umur lima atau kanak – kanak umur 7 tahun, tak lazim saja, fikirku.
bodoh yah? aku malah memilih bermandikan kenangan masa kecil yang kerap tanpa beban, berlari, terus tertawa, dan yang lebih penting  tak perlu berpusing – pusing memikirkan tanggapan orang, juga yang tak kalah mengesankan, kita seperti ilalang yang tanpa dosa. Hanya ada satu dosa masa kecilku yang ku ingat saat ini, yaitu berharap menjadi remaja secepat – cepatnya.  Mengenang itupun membuatku menyungging senyum yang tanpa sengaja, dan ku pahami saat ini aku merindu..

setiap kita pasti tau akan fenomena ini, walau kerap kali tak sadar, betapapun kegemaran kita sewaktu kecil, bersama waktu, kita akan memilih menyimpanya, malah bahkan melupakannya, atau beralih pada keasyikan lain, dan segala bentuk yang memastikan bahwa waktu memang betul – betul berjalan.
gak mungkin juga kan, dari kecil sampai sekarang taunya Cuma main lompat karet, mobil – mobilan, atau bongkar pasang aja, lebih tak mungkin lagi kalau dari dulu sampai sekarang umurnya tetap – tetap dan tubuhnya gak tumbuh – tumbuh :p

meski tak menutup kemungkinan lain, dan kenyatannya memang betul, ada juga loh manusia – manusia yang aku masih kurang tau sih, apa karena tak ingin meninggalkan kecintaannya pada masa kecil, memang perkembangannya terhambat, atau emang seneng jadi bahan ceritaan (cara eksis lebih cepat, heheh)
kemarin aku sempat ketemu satu contoh nyata, saat disuruh kakak ke pasar, aku yang sedari dulu terbiasa berjalan tanpa menatap kedepan menabrak gadis remaja yang kira - kira masih seumuran denganku, (yah menuju tua gitu deh, meski tetap imut – imut :D), tak peduli siapa yang salah dibalik peristiwa baku tabrak itu, aku spontan lirih “sory..sory..” (sambil merapatkan kedua tangan), “ihhh..nda’ liat – liat” (dengan rengekan manja plus muka amit – amit eh -_-‘ ). Sempat sumpek isshh! Tapi gak marah juga, hati saya malah tertawa terpontang – panting, tau umur mbak, muka udah matang gitu, bahasa masih luwerr seperti anak kecil.

mereka boleh membantah dengan “this is me!”,  pertanyaannya, sejak kapan itu menjadi dirimu? Bukankah yang sejati adalah hal yang tak dibuat – buat?

atau “I don’t care about the people” ini juga bukan alasan guys, menutup kuping  hanyalah usaha lama, mewajar – wajarkan, menenag – nenangkan diri sendiri, dan segala bentuk ketidak terimaan pada kenyataan.
Tak  terbantahkan, bahwa kita manusia terbentuk dan dibentuk dengan penilaian, artinya penilaian manusia tak akan pernah nemu ujungnya, akan tetapi, bukankah hal demikian yang membentuk kita menjadi sedemikian rupa?

#terus saya harus gimana dong? => jadilah sewajarnya ;)#
Rabu, 16 Oktober 2013 1 komentar

Di Bawah Rimbun Matahari Siang

Di kampus, semua rutinitas yang ada terasa begitu melelahkan, dan perjalanan pulang selalu menjadi sesuatu yang kunanti – nantikan.

Sebelum betul – betul duduk di kursi angkutan kota yang masyarakat Makassar sebut dengan “pete – pete”, sudah menjadi hal biasa bagiku menempuh beberapa langkah menuju tempat pete – pete sejurusan rumahku biasanya mangkal. Hari ini kelihatannya ada yang berbeda, “tapi apa? Apa karena begitu terik?” Pertanyaan - pertanyaan itu kemudian memaksaku melirik kios pedagang kaki lima yang setiap harinya kulewati tanpa pamit, kali ini aku putuskan membeli fresh tea (ini bukan iklan loh yah), sekalian numpang minum beberapa teguk. Di depan kios, terlihat ada beberapa kursi berderat tak rapi, kursi paling pojoklah yang beruntung menjadi kursi incaranku.

Dalam jenak, “sejak kapan terik begitu mengambil perhatian ku? Sepertinya, kemarin ataupun hari ini sama saja, selalu panas”. Kurasa, inilah diriku yang selalu mencari – cari apa yang berbeda hari ini

Meski tanpa jawaban sama sekali, langkahku kembali menembus puluhan anak sd, jejeran daeng bentor (seperti biasa) dan carut – marut anak – anak jalanan. “Anak – anak jalanan?” Kurasa, jawabannya baru saja kutemukan.  Biasanya anak – anak jalanan tidak berkeliaran di lampu merah sekitaran sini, melainkan di lampu merah setelah ini

“ada apa yah?” mata ku menerawang kian kemari, disana.. ada yang berteduh dengan Koran ditangannya, disana lagi.. ada yang duduk diemperan.. ada juga gerombolan anak – anak jalanan yang udah gantinama jadi “pengamen” dengan alat musik seadanya. Pemandangan seperti ini sebenarnya lazim – lazim saja, hanya saja sekitaran sini adalah pertama kalinya menurutku.  itu cukup membuatku sesak dan sesak (aduh.. betah baget sih, ini kan panas, pulang aja bobo’an dik).

Menyadari diintai oleh ku, salah satu diantara banyak mendekatiku menawarkan Koran yang dijualnya. Kutanggapi dengan senyum unyu tapi hatiku kecut berdendang  
“Hah.. pinter banget sih lu dik, emang, emang ane demen Koran kok -_-“
“mau di apain coba? Paling buat pelapis lemari aja, beda dong ceritanya kalau yang ente jual bukunya kak Brili, hahah”

Kuberikan uang sisa pembelian minuman tadi yang belum sempat masuk ditasku, “ambil saja, korannya buat yang lebih bisa memanfaatkannya deh, jangan aku!”, matanya berbingar – bingar menatapku layaknya selebriti (hahay.. jadi salah tingkah). sementara yang lain kelihatannya tidak mau kalah, satu – persatu dari mereka mulai mendekat (wow.. jangan main borong dong).

“aku juga kak” *dengan muka memelas (ngak usah pasang muka gitu juga dong dik, tanpa kau pasang pun aku udah tau kamu gak punya # heheh, kita samaan kok). Aku mulai keteteran, bilang gak ada jelas bohong. Tapi kalau diberi juga, aku besok idupnya pake apa ? pake umput ? seandainya daeng pete – pete terima – terima aja gitu kalau ane kasi rumput, yah gak masalah, hahah

“dik tadi kan temanmu sudah, saling berbagi aja yah? kalau kalian saya beri semua, besok saya kekampusnya pakai apa coba? Saya juga masih minta uang loh sama orang tua, gak kaya kalian yang hebat – hebat, masih kecil udah pada bisa cari duit” caraku menenangkan tuyul – tuyul  yang rambutnya lagi masa pertumbuhan itu, tanpa peduli kalaupun tanggapan mereka (itu sih derita lo kak)heheh..

karena mereka tuyul – tuyul yang cukup baik, setelah mendengar ocehanku mereka bertaburan menuju lampu merah membawa nyengirnya, (kasian juga sih). ada diantaranya yang langsung merebut fresh tea botol dari tangan ku “minta ya kak” dan berlari tanpa mendengar jawabanku. (yah.. itukan masih banyak -_- , huh aku ikhlas deh)

Kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti oleh mereka. seperti kilat, mereka telah bertendeng di tempat semula, dari kejauhan sorot mata mereka tajam mengiringi langkahku berlalu.
Aku tak tau persis berapa banyak pecahan ribuan sisa pembelian fresh tea tadi, 4 ribu mungkin, atau sedikitnya hanya 3 ribu, tapi cukup membuat hatiku terasa mengawang – awang menyaksikan tangan kecil lagi hitam, anak itu menyerobot dari tanganku lekas. Juga cukup membuat siang anak itu tak sia – sia, setidaknya ada sedikit tambahan kehidupan. Dan inilah Rahmat, saat disituasi apapun kita masih dapat memberi, sekaligus menjadi perantara untuk sekecil - kecilnya kebahagiaan orang lain.




Sabtu, 12 Oktober 2013 0 komentar

Kita Menggenggam tuk Melepaskan




Kami termenung meratap langit kesunyian
Diantara megahnya hidup ini
Merasakan indahnya dunia

Di atasWarna-warna kehidupan
Memancarkan isyarat-isyarat
Menggerakkan hati
menggetarkan batin

Dalam pandangan yang kabur
Matahari bangkit dari sanubariku.
Menyentuh permukaan samodra raya.
Matahari menjadi pelangi di cakrawala
Berkilatan memantulkan cahaya mentari
kami berdiri dengan mata bercahaya
diiringi dengan nyanyian angin dan gemercik air

Jejak langkah terus terukir Diperjalanan kita,  Perjalanan ini,  perjalanan sebutir pasir menjadi mutiara.
Hari itu, kusamnya seragam smp menjadi awal kisah ini, membiarkan wajah – wajah baru meratap masa depannya
Dimasa itulah terbentuk kami dari  kau dan aku, diantara sebuah jalinan persaudaraan. Terbentuk kebersamaan yang mengikuti langkah kita.
Mata sayu itu memandang masa depan, ntah siapa yang akan berakhir disini atau berakhir sebelum akhir.
Disini, di kampus cendana, kita belajar arti mengertii hingga memahami. Berjalan hingga berlari. Dan berlari hingga saling merangkul, bahkan saling membopoh satu sama lain.
Laksana Tangan lihai penulis mengayunkan pena diatas kertas yang masih kosong… kini lembar lembar kertas itu mulai bercerita. Terangkai beberapa deret kata, ada namaku, juga nama mu,,, namun juga ada kata akhir.

Kamilah generasi yang berlayar di lautan
Menybakkam riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga kehidupan
Kamilah generasi yang berlayar diatas jutaan harapan
Memandang harumnya cahaya

Ya… Kamilah genarasi yang bertempur diatas kobaran api
Mengejar angan dan cita-cita 

Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Inilah sajak kami

Sebuah Sajak-sajak perpisahan
Sajak ini bagai air yang mengalir membasahi panas terik dihati kami
Sajak ini muncul ketika canda dan tawa bersemayam diantara kita
Sajak ini muncul ketika senang dan sedih menyelimuti perasan kita
Sajak ini muncul ketika kebahagian, dan kesedihan menghampiri kebersamaan kita
Sajak ini melukiskan sebuah kisah

Sahabat…masih terniang kusam di benakku tagl 17 juli 2010 lalu, Dihari itu gerbang sekolah ini menjadi saksi langkah kita. dengan langkah masuk, berderet, berayun bersama, dan menjadi bagian dari sahabat
Tapi taukah kau, sahabat?
ada kisah sedih diakhir cerita kita
tidak sebuah pisau
tidak pula sebilah bambu
tapi perpisahan
“tak selamanya kita kan seperti ini”
Sahabat…ini terkhusus untukmu yang telah pergi bersama takdir, kampus cendana ini rumah kami, tapi rumahmu jua. Dimanapun kalian saat ini, kami menyayangimu sebagai sahabat selamanya… semoga Tuhan tak bosan menurunkan kasihnya pada mu.

Di sini,
di tempat ini,   
di sekolah yang tercinta kita inilah kisah itu berawal.
berawal ketika pertemuan pertama kita semua
berawal ketika sebuah langkah kaki kecil memasuki gerbang yang akan membawa kita menuju sebuah impian
kisah itu Berawal ketika tiga pelataran, mengukir berjuta-juta kisah tentang kebersamaan, pertemanan, dan persahabatan. 

kini terbaring aku dalam penat sanubari
kini terbaring kamu dalam penat sanubari
dan kini kelabu bersandar pada nestapa

sahabat…Tuhan telah menjawab segalanya dengan begitu sederhana,  bahwasanya, kita menggenggam tuk melepaskan.
Seerat apapun itu, sungguh yang mampu melepasnya bukanlah topan, gempa atau badai. Kala kau bertanya apa yang mampu melepasnya, tidak lain, yang lebih sederhana dari itu (masa).

Sahabat…meski segalanya telah dipastika akan menjadi buram...
meski sebelum memulainyapun telah terliaht bayangan melambaikan tangannya..
kendatipun banjaran garis putus2 telah menegaskan langkah kita sedari dulu,
hingga ujungnya terlihat layaknya titik kecil (hampir hilang)

batin.ku tulus kagum, sebab "kita" semua telah berani memulai

sahabat… ingatlah setiap pahit getir yang mengindahkan
juga setiap air mata yang tak sempat menetes
juga setiap cinta yang tak sempat terbalas
juga setiap kisah yang tak sempat menjadi cerita
juga setiap salam yang tak sempat terjawab.
Sahabat
Kisah ini takan perna terlupakan,
Kisah ini takan perna terhapuskan
kisah ini bercerita tentang  kebersaman yang menhapuskan kesedihan menjadi kebahagian, bercerita tentang pertemanan yang mengubah permusuhan menjadi perdamaian, dan bercerita tentang persahabatan yang menuntun kebersamaan ke jalan kebahagiaan.
Tidak hanya kisah pertemanan, pershabatan, dan kebersamaan yang terukir.
Tidak hanya pertemanan, pershabatan, dan kebersamaan yang mengiringi langkah kita.       
Tapi juga tercipta kasih sanyang yang tulus diantara kita semua

Biarkan bola mata ini meretak mencari buaiannya
biarkanlah air mata kami bercucuran setidaknya untuk mengahampus  kenangan pahit yang pernah ada
biarkan 3 tahun ini bernostalgia untuk generasi2 penerus...
biarkan segala doa terus bergema
menembus lapisan – lapisan dinding yang mengusang


kami memang bukan murid yang terbaik
kami memang bukan sahabat yang paling sejati
tetapi kami tetap berharap
kami jangan hilang dalam kenangan ditelan masa
kami ingin ada dan selalu ad di selah-selah batinmu
Powered By Blogger
 
;