hujan masih menampakkan wajahnya rintik malu - malu sore itu, seolah enggan berbagi sejuknya. Sejauh ini aku tak pernah ada masalah dengan hujan, walau kerap kali ia mencoba menghalangiku untuk beberapa keperluan.
aku memang suka
hujan, tapi sore itu, aku memilih hanya sekedar meratapi desahnya yang sejuk,
tak hendak berlari berbasahkan air, aku bukan lagi balita umur lima atau kanak –
kanak umur 7 tahun, tak lazim saja, fikirku.
bodoh yah? aku malah memilih bermandikan kenangan masa kecil
yang kerap tanpa beban, berlari, terus tertawa, dan yang lebih penting tak perlu berpusing – pusing memikirkan
tanggapan orang, juga yang tak kalah mengesankan, kita seperti ilalang yang
tanpa dosa. Hanya ada satu dosa masa kecilku yang ku ingat saat ini, yaitu
berharap menjadi remaja secepat – cepatnya.
Mengenang itupun membuatku menyungging senyum yang tanpa sengaja, dan
ku pahami saat ini aku merindu..
setiap kita pasti tau akan fenomena ini, walau kerap kali tak sadar, betapapun kegemaran kita sewaktu kecil, bersama waktu, kita akan memilih menyimpanya, malah bahkan melupakannya, atau beralih pada keasyikan lain, dan segala bentuk yang memastikan bahwa waktu memang betul – betul berjalan.
gak mungkin juga kan, dari kecil sampai sekarang taunya Cuma
main lompat karet, mobil – mobilan, atau bongkar pasang aja, lebih tak mungkin
lagi kalau dari dulu sampai sekarang umurnya tetap – tetap dan tubuhnya gak
tumbuh – tumbuh :p
meski tak menutup kemungkinan lain, dan kenyatannya memang betul, ada juga loh manusia – manusia yang aku masih kurang tau sih, apa karena tak ingin meninggalkan kecintaannya pada masa kecil, memang perkembangannya terhambat, atau emang seneng jadi bahan ceritaan (cara eksis lebih cepat, heheh)
meski tak menutup kemungkinan lain, dan kenyatannya memang betul, ada juga loh manusia – manusia yang aku masih kurang tau sih, apa karena tak ingin meninggalkan kecintaannya pada masa kecil, memang perkembangannya terhambat, atau emang seneng jadi bahan ceritaan (cara eksis lebih cepat, heheh)
kemarin aku sempat ketemu satu contoh nyata, saat disuruh
kakak ke pasar, aku yang sedari dulu terbiasa berjalan tanpa menatap kedepan
menabrak gadis remaja yang kira - kira masih seumuran denganku, (yah menuju tua
gitu deh, meski tetap imut – imut :D), tak peduli siapa yang salah dibalik
peristiwa baku tabrak itu, aku spontan lirih “sory..sory..” (sambil merapatkan
kedua tangan), “ihhh..nda’ liat – liat” (dengan rengekan manja plus muka amit –
amit eh -_-‘ ). Sempat sumpek isshh! Tapi gak marah juga, hati saya malah
tertawa terpontang – panting, tau umur mbak, muka udah matang gitu, bahasa masih
luwerr seperti anak kecil.
mereka boleh membantah dengan “this is me!”, pertanyaannya, sejak kapan itu menjadi dirimu? Bukankah yang sejati adalah hal yang tak dibuat – buat?
mereka boleh membantah dengan “this is me!”, pertanyaannya, sejak kapan itu menjadi dirimu? Bukankah yang sejati adalah hal yang tak dibuat – buat?
atau “I don’t care about the people” ini juga bukan alasan guys, menutup kuping hanyalah usaha lama, mewajar – wajarkan, menenag – nenangkan diri sendiri, dan segala bentuk ketidak terimaan pada kenyataan.
Tak terbantahkan, bahwa kita manusia terbentuk dan dibentuk dengan penilaian, artinya penilaian manusia tak akan pernah nemu ujungnya, akan tetapi, bukankah hal demikian yang membentuk kita menjadi sedemikian rupa?
#terus saya harus gimana dong? => jadilah sewajarnya ;)#



2 komentar:
......
^_^
Posting Komentar
apa komentar kamu?