BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Sabtu, 26 Oktober 2013

Jadilah Sewajarnya



hujan masih menampakkan wajahnya rintik malu - malu sore itu, seolah enggan berbagi sejuknya. Sejauh ini aku tak pernah ada masalah dengan hujan, walau kerap kali ia mencoba menghalangiku untuk beberapa keperluan.
aku memang suka hujan, tapi sore itu, aku memilih hanya sekedar meratapi desahnya yang sejuk, tak hendak berlari berbasahkan air, aku bukan lagi balita umur lima atau kanak – kanak umur 7 tahun, tak lazim saja, fikirku.
bodoh yah? aku malah memilih bermandikan kenangan masa kecil yang kerap tanpa beban, berlari, terus tertawa, dan yang lebih penting  tak perlu berpusing – pusing memikirkan tanggapan orang, juga yang tak kalah mengesankan, kita seperti ilalang yang tanpa dosa. Hanya ada satu dosa masa kecilku yang ku ingat saat ini, yaitu berharap menjadi remaja secepat – cepatnya.  Mengenang itupun membuatku menyungging senyum yang tanpa sengaja, dan ku pahami saat ini aku merindu..

setiap kita pasti tau akan fenomena ini, walau kerap kali tak sadar, betapapun kegemaran kita sewaktu kecil, bersama waktu, kita akan memilih menyimpanya, malah bahkan melupakannya, atau beralih pada keasyikan lain, dan segala bentuk yang memastikan bahwa waktu memang betul – betul berjalan.
gak mungkin juga kan, dari kecil sampai sekarang taunya Cuma main lompat karet, mobil – mobilan, atau bongkar pasang aja, lebih tak mungkin lagi kalau dari dulu sampai sekarang umurnya tetap – tetap dan tubuhnya gak tumbuh – tumbuh :p

meski tak menutup kemungkinan lain, dan kenyatannya memang betul, ada juga loh manusia – manusia yang aku masih kurang tau sih, apa karena tak ingin meninggalkan kecintaannya pada masa kecil, memang perkembangannya terhambat, atau emang seneng jadi bahan ceritaan (cara eksis lebih cepat, heheh)
kemarin aku sempat ketemu satu contoh nyata, saat disuruh kakak ke pasar, aku yang sedari dulu terbiasa berjalan tanpa menatap kedepan menabrak gadis remaja yang kira - kira masih seumuran denganku, (yah menuju tua gitu deh, meski tetap imut – imut :D), tak peduli siapa yang salah dibalik peristiwa baku tabrak itu, aku spontan lirih “sory..sory..” (sambil merapatkan kedua tangan), “ihhh..nda’ liat – liat” (dengan rengekan manja plus muka amit – amit eh -_-‘ ). Sempat sumpek isshh! Tapi gak marah juga, hati saya malah tertawa terpontang – panting, tau umur mbak, muka udah matang gitu, bahasa masih luwerr seperti anak kecil.

mereka boleh membantah dengan “this is me!”,  pertanyaannya, sejak kapan itu menjadi dirimu? Bukankah yang sejati adalah hal yang tak dibuat – buat?

atau “I don’t care about the people” ini juga bukan alasan guys, menutup kuping  hanyalah usaha lama, mewajar – wajarkan, menenag – nenangkan diri sendiri, dan segala bentuk ketidak terimaan pada kenyataan.
Tak  terbantahkan, bahwa kita manusia terbentuk dan dibentuk dengan penilaian, artinya penilaian manusia tak akan pernah nemu ujungnya, akan tetapi, bukankah hal demikian yang membentuk kita menjadi sedemikian rupa?

#terus saya harus gimana dong? => jadilah sewajarnya ;)#

2 komentar:

Posting Komentar

apa komentar kamu?

Powered By Blogger
 
;