Industri Games,
kini menjadi salah satu bisnis menggiurkan dikalangan pebisnis. Bahkan banyak
pemodal yang rela menyisihkan modalnya untuk bisnis ini. Bukan hanya games
aksi, kini games olahraga elektronik atau biasa disebut esport kian
dikembangkan dalam bisnis ini. Seperti yang diutarakan dalam debat capres
cawapres lalu yang menyatakan nilai ekonomi e-Sport tumbuh sangat pesat.
Catatan di tahun 2017, perputarannya 11-12 triliun, per tahun tumbuh 35 persen.
Oleh sebab itu, pemerintah terus menggencarkan pembangunan infrastruktur langit
seperti Palapa Ring untuk menunjang permainan tersebut karena banyak keuntungan
yang dihasilkan di sana (https://www.idntimes.com/news/indonesia/fitang-adhitia/jokowi-industri-esport-tumbuh-pesat-di-indonesia/full).
Bahkan menurut Jokowi, perubahan global yang terjadi saat ini, seperti
artificial intelligence (AI), internet of things, virtual reality, dan bitcoin.
Ini juga sama, ini sebuah profesi yang anak muda menyenangi sehingga pemerintah
akan membangun infrastruktur digital.
(https://m.liputan6.com/pilpres/read/3941093/jokowi-industri-game-memiliki-peluang-besar-di-indonesia)
Pun juga telkom
Indonesia memiliki ambisi besar untuk menjadi pemain besar di
industri game Indonesia. Dalam acara Telkom DigiSummit di Jakarta
(11/4), Telkom memaparkan kerangka bisnis di beragam sektor hiburan dan
pendidikan. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah industri game.
Ambisi di industri gaming berdasarkan pada tren game,
khususnya mobile, yang sedang menjadi perhatian besar sejumlah masyarakat.
Disampaikan oleh Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom,
industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi
dibandingkan jenis hiburan lainnya. “Gaming itu pendapatannya bisa tujuh
kali lipat dari pendapatan sebuah film,” terang Jody.
(http://marketeers.com/telkom-serius-garap-industri-game-dalam-negeri/)
Kepala Staf
Kepresidenan, Moeldoko berujar, "Indonesia ini peringkat ke-16 untuk
industri game. Tahun 2017 itu, nilainya sampai 79,7 juta dollar AS berdasarkan
data dari Bekraf. Presiden ingin esport ini semakin berkembang, semakin baik
bagi perekonomian nasional dan ikut mewujudkan visi Indonesia yang
modern." (https://amp.kontan.co.id/news/industri-game-bernilai-us-797-juta-pemerintah-gelar-turnamen-mobile-legend).
Adapun Menteri
Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam
Nahrawi berpendapat e-sport harus mulai masuk ke kurikulum
pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. "Kurikulum harus masuk di
sana, pelatihnya harus masuk di sana. Kalau sudah seperti itu, tentu harus
bekerja sama, harus kolaborasi," kata Imam saat ditemui pewarta di
Sekretariat Kabinet, Jakarta, Senin (28/1). Selain itu, Kementerian Pemuda dan
Olahraga (Kemenpora) menyebut sudah menganggarkan Rp50 miliar untuk menggelar
kompetisi-kompetisi di level sekolah.
(https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190128182128-185-364527/menpora-harap-e-sport-masuk-kurikulum-sekolah)
Hal ini tentu
mengundang tanya baru, tepatkah memandang e-sport sebagai sebuah aktivitas
olahraga? Lalu, sebegitu pentingnya kah game online -meski berlabel e-sport-
bagi kehidupan berbangsa dan bernegara?
Kerakusan
kapitalisme
Olahraga adalah
suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan
gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran
jasmani.
(https://pengertianahli.id/2013/08/pengertian-olahraga-apa-itu-olahraga.html )
Apakah e-sport
memenuhi kriteria dalam pengertian tersebut? Sedangkan kenyataannya pemain
e-sport lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk di depan layar monitor,
sebagaimana lazimnya permainan game online.
Dalam
kapitalisme, pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan
sebanyak-banyaknya menjadi harga mati untuk mereka. Meskipun itu menabrak
rambu-rambu norma bahkan peraturan Agama. Mereka tidak akan peduli meskipun itu
berdampak buruk bagi pelajar. Sehingga dapat dipastikan, sport yang dimaksud di
sini hanyalah bungkusan agar game ini dapat terlihat menarik.
Di saat
perhitungan bisnis yang menjadi mindset pemerintah, maka perhitungan mengenai
dampaknya pada kesehatan dan kualitas generasi hanyalah nomer sekian. Padahal
para ahli kesehatan telah banyak meneliti dampak negatif game online bagi
kesehatan jiwa fisik dan psikis manusia.
Bahkan Menurut
WHO, bermain game disebut sebagai gangguan mental ketika permainan itu
mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan
pendidikan. "Sudah banyak cukup bukti yang menunjukkan kecanduan game
dapat menimbulkan masalah kesehatan," tulis WHO dalam situs resminya.(
https://sains.kompas.com/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental)
Sebagaimana
dikutip dari Bisnis.com (09/07/2018), dr Kristiana Siste, SpKJ (K) dari
Departemen Psikiatri FK UI RSCM memaparkan, “Struktur dan fungsi otaknya
mengalami perubahan. Jadi, kalau kita lihat otaknya pake MRI, ada perubahan di
bagian otak pre-frontal cortex”. Di sisi lain, pecandu seringkali mengalami
gangguan tidur sehingga mempengaruhi sistem metabolisme tubuhnya, serta
berpotensi menjadi sosok individu .
(https://m.bisnis.com/amp/read/20180709/220/814364/waspada-inilah-dampak-kecanduan-game-online)
Bahkan Badan
World Health Organization (WHO) PBB memasukkan kecanduan game sebagai salah
satu penyakit gangguan mental (mental disorder)
(https://amp.kompas.com/sains/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental?)
Islam adalah diin
yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Kesesuaiannya dengan
fitrah manusia juga terlihat dari perhatiannya terhadap kesehatan, baik fisik
maupun psikis. Karena kesehatan merupakan salah satu unsur penunjang utama
dalam melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan bekerja serta
aktivitas lainnya.
Dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu. Bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda “Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh
Allah daripada orang mukmin yang lemah”.
Bagi seorang
muslim yang menyandarkan hidupnya pada aturan Islam, permainan hanyalah
selingan penghilang penat. Oleh karena itu, tidak boleh melalaikan dan
melanggar Syariat. Tidak boleh pula melakukan permainan yang menghabiskan waktu
dan tenaga sehingga mengalihkan pengabdian pada Allah sebagai fokus hidupnya.
Terlebih jika terbukti permainan yang dilakukan merusak kesehatan dan
mengandung konten negatif, sebagaimana acapkali ditemukan dalam game online.
Islam juga
memberikan perhatian terhadap permasalahan olahraga (riyadhoh) sebagai salah
satu cara membentuk tubuh yang kuat dan sehat. Dalam sirah Nabi ﷺ,
kisah perlombaan lari antara Rasulullah ﷺ
dan Aisyah pun menjadi contoh populis dalam olahraga. Rasulullah juga
menyebutkan bentuk olahraga berenang, berkuda dan memanah sebagai sesuatu yang
tidak sia-sia.
Dari Jabir bin
Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda,"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah
merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat
(perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih
memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).
Namun demikian,
tidak sepantasnya menjadikan permainan dan olahraga sebagai ajang industri,
bukan pula salah satu pos penerimaan negara. Karena sejatinya permainan
hanyalah selingan pelepas lelah. Sedangkan olahraga adalah sarana untuk
meningkatkan ketahanan fisik dan psikis dalam rangka persiapan dakwah dan jihad
menyebar risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Demikianlah, kita
bisa membayangkan seandainya permainan dan olahraga dijadikan ajang industri,
terlebih oleh negara, maka generasi muda yang terbangun akan kehilangan makna
hidupnya. Mereka tumbuh menjadi generasi lemah, terlena oleh kehidupan dunia
dan kebahagiaan semu. Bahkan dampak bagi umat Islam, mereka akan lupa hakikat
dirinya sebagai khoiru ummah (umat terbaik). Lalu mana mungkin mampu membangun
peradaban unggul yang akan menebar kerahmatan Islam ke seluruh penjuru dunia?
Khilafah
pencetak generasi emas
Kurikulum adalah
hal yang penting dalam mencetak generasi. Negeri kita saat ini sudah bolak
balik berganti kurikulum. Kita bisa melihat bagaimana produk dari sistem
pendidikan negara kita. Mulai dari yang split personality, gaul bebas, pemberi
harapan palsu, pacaran, hamil diluar nikah, membully orangtua dan guru, dan
lainnya. Memang ada dari pelajar yang memenangi berbagai lomba tingkat
internasional, tetapi itu tidak mampu menutupi kelamnya potret pelajar masa
kini. Termasuk mereka yang tidak mampu mengontrol dirinya dalam penggunaan teknologi
yang berujung kepada generasi apatis, pembangkang bahkan lupa untuk beribadah
juga mengkaji Islam. Terlebih banyak muatan dalam kurikulum yang merupakan
pesanan asing.
Kitapun tak boleh
luput, esport ini jua adalah rakitan asing,
Dalam sistem
Khilafah Islam, pendidikan merupakan hajat atau kebutuhan dasar bagi setiap
warga negara. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur,
terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang akan memiliki
kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu
terapan dan memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Dalam sistem
Islam, tanggung jawab penyelenggaraan proses pendidikan ada pada negara, dalam
hal ini adalah seorang Khalifah. “Seorang Imam (khalifah/kepala negara) adalah
pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban
atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kurikulum adalah
hal yang penting. Oleh karenanya negara juga hadir menyiapkan standar
kurikulum, yakni kurikulum yang terintegrasi dengan Akidah Islam, menetapkan
metode pembelajaran yang baku dalam proses belajar mengajar. Menyediakan pula
tenaga pengajar yang berkualitas berikut kompensasi kesejahteraannya yang
mencukupi. Negara juga mendorong dan memfasilitasi orang tua untuk meningkatkan
kemampuannya mendidik anaknya agar tercapai output pendidikan yang diharapkan.
Yakni lahirnya individu-individu terbaik yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah,
Faqih fii ad-Din, terdepan dalam sains dan teknologi serta berjiwa pemimpin.
Kurikulum Islam
berhasil mencetak para ilmuwan dengan teknologi terapan yang menginspirasi
perkembangan teknologi dunia. Ilmuwan bukan sembarang ilmuwan tetapi ilmuwan
yang senantiasa berpikir bagaimana ilmu terapan tersebut bermanfaat untuk umat.
Para ilmuwan akan menjadikan standar hukum syara dalam pengembangan teknologi
yang dilakukan dengan penggunaan sarana yang memadai. Pelajar sangat senang dan
tidak terbebani dalam menuntut ilmu karena semua fasilitas memadai dalam
mengembangkan potensi mereka disamping mereka pun diberi uang saku dan
fasilitas lengkap selama bersekolah. Mereka sangat dihargai sekecil apapun
kontribusi mereka. Hal itu ditempuh juga dengan melengkapi sekolah-sekolah,
akademi-akademi dan universitas-universitas dengan perlengkapan yang dibutuhkan
seperti laboratorium dan berbagai sarana pendidikan yang sesuai.
Dalam
masing-masing periode sekolah, di dalamnya terdapat materi pokok dan
keterampilan dan kerajinan yang disiapkan. Didalamnya diperhatikan perbedaan
kemampuan individual para siswa. Ini dimaksudkan untuk efisiensi waktu belajar
dan prestasi yang dimiliki. Jadi tidak ada anak yang merasa terbebani ketika
sekolah, mereka bahagia sehingga tidak perlu ada pelampiasan dengan melakukan
hal yang kurang baik hanya untuk sekadar merelakskan diri.
Ujian dilakukan
secara lisan untuk melihat pemahaman siswa. Dalam Khilafah Islam, siswa tidak
disibukkan dengan sekadar soal yang rumit seperti saat ini dengan soal
berstandar HOTS, atau mengejar berstandar PISA, namun tidak berkorelasi dengan
pemahaman dan pola sikap siswa. Di akhir jenjang sekolah, setelah seorang siswa
berhasil menyelesaikan 36 periode, siswa tersebut dapat mengikuti ujian umum
yaitu “Ujian Umum untuk seluruh jenjang sekolah”. Seorang siswa juga dapat
menyelesaikan jenjang sekolah dengan berhasil tanpa harus mengikuti ujian umum.
Di dalam negara Khilafah akan ada akademi industri dan kejuruan yang tidak
mensyaratkan kelulusan seorang siswa dari ujian umum untuk seluruh jenjang
sekolah.
Khilafah Islam
memperhatikan pentingnya sekolah kejuruan untuk mempersiapkan paket seni dan
keterampilan dalam spesialisasi yang tidak membutuhkan kedalaman ilmu
pengetahuan seperti kerajinan kayu, pandai besi, menjahit, memasak, dll. Bagi
siswa yang tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan sekolah dikarenakan satu
dan lain hal, bisa meninggalkan pendidikan sekolah setelah menyelesaikan
periode belajar yang ke dua puluh empat, dan mendaftarkan diri pada lembaga
pendidikan kejuruan untuk mempelajari salah satu dari spesialisasi yang ada. Para
pakar akan menetapkan lamanya pendidikan di setiap jurusan dan karakter dari
materi yang akan dipelajari siswa termasuk keahlian yang diperlukan untuk
medalami ketrampilan tersebut. Setelah kelulusannya, siswa akan akan diberi
sertifikat yang diberi nama “Sertifikat ketrampilan” di bidang yang didalami
seperti menjahit, memasak, dll.
Dengan demikian,
sistem pendidikan dalam Khilafah Islam adalah pendidikan yang berkualitas dan
mengembangkan potensi para pelajarnya. Inilah solusi hakiki yang akan mengantarkan
generasi kuat, cerdas, berkepribadian Islam yang utuh, terdepan dan mampu
memimpin bangsa-bangsa lainnya. Tidak ada lagi generasi yang meninggikan satu
bidang dengan meninggalkan bidang yang lain. Semua berjalan beriringan sesuai
dengan kaidah syara’. Semoga firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam QS Ali
Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan
mencegah yang munkar dan berimanlah kepada Allah…” akan segera terwujud dalam
waktu dekat. Allahu a’lam.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact