BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Senin, 18 Mei 2020

‘Berdamai dengan Corona’ Makna Lain dari Herd Immunity






#DakwahNisaSulsel
Andi Mutmainnah Idris (Penulis Buku)

            Kebingungan seperti tak henti hentinya mendera masyarakat di tengah pandemi seperti ini, ulah siapa lagi jika bukan pemerintah. Sampai Rabu kini kita masih bersatu dalam barisan ‘perang’ melawan corona, sebagaimana seruan pemerintah untuk hal tersebut. Hingga pada Kamis, (7/5/2020) panglima perang justru menyeru untuk hidup berdamai dengan corona, padahal belum nampak perlawanan nyata kecuali hanya dagelan-dagelan penawar cemas dan rasa takut. Apakah ini adalah isyarat kekalahan?
            Saat ini, pemerintah daerah masih silih berganti mengajukan PSBB, sedangkan pemerintah pusat justru membelokkan stir dan berencana untuk mengoprasikan kembali sarana transportasi udara maupun darat. Alasannya selalu saja masalah ekonomi, padahal ekonomi siapa yang mereka maksud? Tentu saja bukan masyarakat kelas bawah, kenyataannya, masyarakat hanya menjadi alat panjat sosial mereka. Kacau balaunya prihal bansos kemarin sekiranya bisa menjadi bukti. Alih alih bergegas memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin nyelekit, malah sibuk mencetak nama besar dibalik lembaran kresek, yang nominalnya bisa lebih berharaga bagi masyarakat jika seandainya diuangkan saja.
Disamping itu, melihat kondisi masyarakat yang terjangkit semakin bertambah, harusnya pemerintah berkaca akan penetapan PSBB dari pada lockdown sejak awal. Tentu saja PSBB tidaklah berhasil memutus rantai penularan secara total. Olehnya, ini seharusnya menjadi cermin besar bagi pemerintah untuk mengambil langkah lebih memperketat upaya penanganan dengan melakukan screening massal, lalu menguci pergerakan bagi yang terpapar.
Hanya saja, kembali masyarakat harus menelan pil pahit, menerima kenyataan pemerintah berlepas tanggung jawab menjamin keselamatan jiwa mereka, dalam hal ini diserahkan sepenuhnya kepada individu masing-masing dengan isyarat herd imunnity melalui pernyataan "Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan COVID untuk beberapa waktu ke depan," ujar Pak Jokowi lewat saluran YouTube Setpres, Minggu (7/5).
Meski pada akhirnya, setelah pernyataan tersebut menuai desas-desus, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengonfirmasi pada Jum’at (8/5) "Artinya bahwa covid-19 itu ada, dan kita terus berusaha agar segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena adanya covid-19, menjadikan adanya penyesuaian dalam kehidupan," pernyataan tersebut tidak mengurangi maksud bahwa masyarakat memang harus mandiri dalam melawan covid-19, tanpa ada jaminan Negara dalam hal ini ketika pada akhirnya ternyata terpapar, selain itu Negara sendiri belum ada kepastian terkait keamanan, dalam hal ini minimal vaksinasi. Pernyataan itu juga tak bisa begitu saja menghapuskan pernyataan Pak Jokowi sebelumnya “Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya”. Adalah menyakitkan bagi masyarakat, sebab berarti nyawa mereka kini harus menjadi tumbal, sedikit ataupun banyak, atau meski hanya 1 nyawapun, demi bergeraknya kembali mesin-mesin industri. 
Terkait Herd Imunnity sebenarnya telah diwanti wanti oleh beberapa pakar untuk tidak menjadi pilihan, herd immunity sendiri adalah kondisi saat sejumlah orang dalam populasi dibiarkan terpapar penyakit yang tengah mewabah, kemudian terbentuk antibody dalam tubuhnya akibat telah sembuh dari terjangkit penyakit tersebut. dengan adanya herd immunity memungkinkan laju penyakit akan berhenti. Namun juga berarti harus merelakan sebagian orang meninggal dunia karena lemah imunnya, utamanya lansia, yang memiliki penyakit bawaan, dan anak-anak.
Konsep ini ditentang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Herd immunity disebut bisa sangat fatal dampaknya. "Mungkin saja negara yang kurang menerapkan langkah-langkah, tidak melakukan apapun, tiba-tiba secara ajaib akan mencapai kekebalan kawanan (herd immunity), dan tidak masalah apabila kita kehilangan orang-orang tua selama proses tersebut," kata Direktur Eksekutif Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan, dalam jumpa pers mengenai covid-19, di Jenewa, Swiss, tanggal 11 Mei 2020, sebagaimana disiarkan kanal YouTube United Nations, diakses detikcom pada Rabu (13/5).
Lebih lanjut lagi, herd dalam bahasa Inggris berarti 'kawanan binatang', misalnya kawanan serigala, kawanan domba, atau kawanan burung. WHO menegaskan manusia tak bisa disamakan dengan kawanan binatang. Ryan menjelaskan, pada dasarnya konsep herd immunity adalah cara terakhir mencapai kekebalan tubuh dari virus namun dengan bantuan vaksinasi, bukan dengan cara pembiaran penularan virus terhadap manusia. Konsep herd immunity berisi perhitungan berapa banyak orang yang bisa divaksinasi supaya semuanya bisa kebal. "Maka saya pikir kita perlu sangat berhati-hati ketika menggunakan istilah ini terkait penularan alami dan manusia, karena ini bisa mengarah ke artimetika yang sangat brutal," kata Ryan.
Islam sendiri sangat serius dalam memandang hal demikian, prinsipnya adalah “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalb al mashalih” menjauhi hal yang dapat merusak diri adalah lebih diutamakan daripada mengejar kemaslahatan. Dan tak ada yang lebih utama dalam Islam melebihi nyawa umat itu sendiri. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Sedangkan terhadap dunia Islam memandang, Dari Al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).
Kacaunya penanganan wabah sejak munculnya ini harusnya cukup menjadi bukti kepada masyarakat, bahwa sistem kapitalis memang tak akan pernah pantas dan sanggup meriayah manusia. Umat tak hanya butuh pemimpin muslim. Kenyataannya sistem yang tidak sesuai hukum Islam ini, meski dikemudi oleh wong deso tetap saja rusak dan merusak. Wallahu a’llam

Sumber : https://it-it.facebook.com/Dakwah.Nisa.Sulsel/photos/a.1405552836393748/2685418508407168/?type=3&eid=ARCu9PaFOr_a7l7CN125UxFfaNzxZsa6zFqF1lh2qDajQhCqZd3oHuVHsX5CC5dQg7ej7HZUrhFa4NJr

0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar kamu?

Powered By Blogger
 
;