BISMILLAH.. ALHAMDULILLAH


Jangan lupa FOLLOW IG @amuthek dan SUSCRIBE my youtube channel Andi Mutmainnah Idris 😉

Rabu, 13 Mei 2020

PSBB, Gerakan Cuci Tangan ala Pemerintah


Andi Mutmainnah Idris 
(Penulis Buku)


            #DakwahNisaSulsel Dewasa ini mencuci tangan memang sangat dianjurkan oleh para ahli yang berkecimpung pada ranah medis, guna menghindari serangan covid-19. Berbeda halnya dengan cuci tangan gaya pemerintah melalui kebijakan yang acakadul, alhasil, mengatasi masalah dengan masalah yang baru.
           Jika kita kilas balik, para pakar sebenarnya telah menampakkan diri bahkan sejak virus ini dinyatakan belum masuk ke Indonesia. Diantaranya tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) mengatakan bahwa data menunjukkan, seharusnya virus corona telah masuk sejak Januari minggu ke-3, sebaiknya dilakukan screening, hal ini tak jauh berbeda dengan peringatan dari Universitas Harvard. Alih alih bergegas, pemerintah malah tampak meremehkan, ini dapat dicermati melalui pemberian diskon pesawat bagi para wisatawan dan mendorong Investasi, di tengah kisruh Negara tetangga yang sibuk melawan pandemi covid ini, tak hanya itu, pada saat yang sama tenaga kerja asing Cina sebagai negara asal virus terus berdatangan, memang seperti mengundang wabah untuk masuk, lalu sibuk berdalih “Indonesia kebal corona”.
            Setelah virus nyata telah masukpun, melalui pengumuman presiden 02 Maret 2020 lengkap dengan kronologisnya, kembali masyarakat bersuara untuk screening lalu lockdown, berkaca pada penanganan kebijakan cepat tanggap Cina yang terbukti tuntas dalam 3 bulan, atau Korea Selatan yang lebih singkat lagi dari pada Cina dalam hal ini. bahkan beberapa pakar Agama ikut menggambarkan penanganan wabah metode Islam menggunakan cara lockdown daerah terpapar dengan mengikuti jejak penularan, sebagaimana yang pernah dicontohkan pada masa Rosulullah maupun pemerintahan khalifah Umar setelahnya. Alih alih melakukan keduanya, demi dianggap melakukan upaya, pemerintah malah mendatangkan rapid test dari Cina, tidak juga untuk screening, karena jumlah yang jauh jika dipadankan jumlah masyarakat Indonesia.
Disamping itu, rapid test kembali menimbulkan kisruh, banyak peneliti dan ahli dibidang medis kembali bersuara, pasalnya, rapid test hanya mendeteksi antibodi bukan RNA virusnya sebagaimana test PCR yang memang jauh lebih mahal, alhasil seorang terpapar yang belum terbentuk antibodi hasilnya akan negatif dengan rapid test, mengingat masa inkubasi virus ini cukup memakan waktu. Dengan demikian, tentu saja membeli alat yang justru malah menjadikan maslah semakin besar, tidak lebih dari aksi membuang buang anggaran Negara. Hal tersebut kini terbukti pada kasus covid ke-5 di Pangkep Sul-Sel, seorang yang terdeteksi negatif pada rapid test saat dibandara akhirnya merasa aman-aman saja dan dibiarkan beraktivitas seperti biasa, alhasil pada hari ke-10 barulah hasilnya menunjukkan positif, jelas kasus semacam ini justru makin menambah kekisruhan baru. Meski masukan masuk akal menyoal rapid test tersebut kembali tak diindahkan pemerintah.
Hingga pada akhirnya pemerintah mengambil jalan cuci tangan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai respon terhadap tudingan lamban dari masyarakat. Pada kenyataannya, Indonesia memang sangat terlambat sekitar 2,5 bulan, dapat dilihat dari pembentukan gugus tugas penanganan covid baru sekitar tanggal 12 Maret 2020, saat covid ini jauh-jauh hari sudah mengacak acak pertahanan 69 negara tetangga. Hari ini, apakah PSBB sebagai langkah akhir benar-benar menjadi solusi terbaik?
Semenjak diberlakukan PSBB dibeberapa titik wilayah Indonesia yang dianggap zona merah, persoalan demi persoalan kembali merebak. Baru-baru ini terjadi banyak pertentangan antara aparat yang bertugas mengamankan dengan sejumlah pedagang. Tidak dipungkiri, masyarakat tentu kebingungan kapan keadaan ini berakhir, sementara jika diamati, meski dengan kasat mata, pemberlakuan PSBB ini sangatlah berbeda dengan lockdown, dengan adanya aktivitas, tentu saja potensi penularan tetap terjadi, hanya melambat. jelas keadaan ini semakin memperlambat kemungkinan untuk kembali normal. Sementara mayoritas rakyat Indonesia yang hidupnya bergantung dari aktivitas perdagangan harus menikmati dilema berat ini, tentu saja, merekapun takut terpapar virus, tapi mati kelaparan bagi mereka jauh lebih mengerikan.
Selain itu, PSBB ini sedikitnya menjelaskan kepada kita betapa rapuhnya tatanan ekonomi Indonesia, juga status Negara maju hanyalah omomng kosong. Inilah jawaban yang tepat mengapa sejak awal sulit untuk menetapkan lockdown, lagi lagi persoalan ekonomi, sebab perbedaan mendasar adalah ketika Negara menetapkan lockdown maka semua kebutuhan rakyat ditanggung oleh Negara. PSBB adalah bentuk cuci tangan dan berlepas tangannya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rakyat, terlebih jika wabah tak kunjung berhenti, pemerintah tinggal mengatakan “Ini ulah rakyat sendiri, karena membandel”.


Solusi Islam Mengatasi Wabah Penyakit
Sebagai umat Islam selayaknya kita meyakini al-Qu’ran adalah petunjuk yang mampu mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari bagun tidur hingga membangun Negara. Melihat hari ini banyak yang berkomentar sumbang ketika ada yang mengaitkan wabah dengan Islam sebagai solusi, tentu saja itu menjadi tolok ukur keberhasilan bidikan sekularisme membangun paham umat Islam dalam rangka memenjarakan ajaran Islam hanya pada ranah nafsiyah saja, juga syiar Islam hanya di sudut-sudut Masjid saja.
Padahal dalam mengatasi wabah Islampun punya solusinya, yakni karantina wilayah (lockdown), total maupun parsial. Sedang selama karantina, semua kebutuhan masyarakat dijamin oleh pemerintah, sehingga tak ada kekhawatiran akan urusan perut dan pekerjaan. Sementara di wilayah steril yang tidak terdampak, roda kehidupan akan terus berjalan.

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR. Bukhari).

“Seseorang yang memiliki unta sakit jangan membiarkan unta tersebut makan dan minum bersama unta yang sehat” (HR.Ibnu Majah)

Hal ini sudah diterapkan 14 abad lampau di masa awal peradaban Islam, dicontohkan langsung oleh Rosulullah SAW lalu kembali diikuti oleh khalifah Umar bin Khattab di masa pemerintahannya. Menurut Profesor Craig Considince dari Rice University, konsep Islam ini adalah pionir di dunia dan tetap efektif hingga masa kini.

“maka Seorang pemimpin adalah pengurus bagi rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang diurusinya” (HR.Muslim).


0 komentar:

Posting Komentar

apa komentar kamu?

Powered By Blogger
 
;