#DakwahNisaSulsel
Andi Mutmainnah Idris (Penulis Buku)
Kebingungan seperti tak henti
hentinya mendera masyarakat di tengah pandemi seperti ini, ulah siapa lagi jika
bukan pemerintah. Sampai Rabu kini kita masih bersatu dalam barisan ‘perang’
melawan corona, sebagaimana seruan pemerintah untuk hal tersebut. Hingga pada Kamis,
(7/5/2020) panglima perang justru menyeru untuk hidup berdamai dengan corona, padahal
belum nampak perlawanan nyata kecuali hanya dagelan-dagelan penawar cemas dan
rasa takut. Apakah ini adalah isyarat kekalahan?
Saat ini, pemerintah daerah masih
silih berganti mengajukan PSBB, sedangkan pemerintah pusat justru membelokkan
stir dan berencana untuk mengoprasikan kembali sarana transportasi udara maupun
darat. Alasannya selalu saja masalah ekonomi, padahal ekonomi siapa yang mereka
maksud? Tentu saja bukan masyarakat kelas bawah, kenyataannya, masyarakat hanya
menjadi alat panjat sosial mereka. Kacau balaunya prihal bansos kemarin sekiranya
bisa menjadi bukti. Alih alih bergegas memenuhi kebutuhan masyarakat yang
semakin nyelekit, malah sibuk mencetak nama besar dibalik lembaran kresek, yang
nominalnya bisa lebih berharaga bagi masyarakat jika seandainya diuangkan saja.
Disamping itu, melihat kondisi masyarakat yang
terjangkit semakin bertambah, harusnya pemerintah berkaca akan penetapan PSBB
dari pada lockdown sejak awal. Tentu
saja PSBB tidaklah berhasil memutus rantai penularan secara total. Olehnya, ini
seharusnya menjadi cermin besar bagi pemerintah untuk mengambil langkah lebih
memperketat upaya penanganan dengan melakukan screening massal, lalu menguci pergerakan bagi yang terpapar.
Hanya saja, kembali masyarakat harus menelan pil
pahit, menerima kenyataan pemerintah berlepas tanggung jawab menjamin
keselamatan jiwa mereka, dalam hal ini diserahkan sepenuhnya kepada individu
masing-masing dengan isyarat herd
imunnity melalui pernyataan "Ada kemungkinan masih bisa naik
lagi, atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya.
Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai
dengan COVID untuk beberapa waktu ke depan," ujar Pak Jokowi lewat saluran YouTube
Setpres, Minggu (7/5).
Meski pada akhirnya, setelah pernyataan tersebut
menuai desas-desus, Deputi Bidang
Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengonfirmasi pada
Jum’at (8/5) "Artinya bahwa covid-19
itu ada, dan kita terus berusaha agar segera hilang. Tapi kita tidak boleh
menjadi tidak produktif karena adanya covid-19, menjadikan adanya penyesuaian
dalam kehidupan," pernyataan tersebut tidak mengurangi maksud bahwa
masyarakat memang harus mandiri dalam melawan covid-19, tanpa ada jaminan
Negara dalam hal ini ketika pada akhirnya ternyata terpapar, selain itu Negara
sendiri belum ada kepastian terkait keamanan, dalam hal ini minimal vaksinasi. Pernyataan
itu juga tak bisa begitu saja menghapuskan pernyataan Pak Jokowi sebelumnya “Ada kemungkinan masih bisa naik lagi, atau
turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi, dan seterusnya”. Adalah
menyakitkan bagi masyarakat, sebab berarti nyawa mereka kini harus menjadi
tumbal, sedikit ataupun banyak, atau meski hanya 1 nyawapun, demi bergeraknya
kembali mesin-mesin industri.
Terkait Herd
Imunnity sebenarnya telah diwanti wanti oleh beberapa pakar untuk tidak
menjadi pilihan, herd immunity sendiri adalah kondisi saat sejumlah orang dalam populasi dibiarkan
terpapar penyakit yang tengah mewabah, kemudian terbentuk antibody dalam tubuhnya akibat telah sembuh dari terjangkit
penyakit tersebut. dengan adanya herd
immunity memungkinkan laju penyakit akan berhenti. Namun juga berarti harus
merelakan sebagian orang meninggal dunia karena lemah imunnya, utamanya lansia,
yang memiliki penyakit bawaan, dan anak-anak.
Konsep ini ditentang Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO). Herd immunity disebut bisa
sangat fatal dampaknya. "Mungkin
saja negara yang kurang menerapkan langkah-langkah, tidak melakukan apapun,
tiba-tiba secara ajaib akan mencapai kekebalan kawanan (herd immunity), dan
tidak masalah apabila kita kehilangan orang-orang tua selama proses
tersebut," kata Direktur Eksekutif Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael
Ryan, dalam jumpa pers mengenai covid-19, di Jenewa, Swiss, tanggal 11 Mei
2020, sebagaimana disiarkan kanal YouTube United Nations, diakses detikcom pada
Rabu (13/5).
Lebih lanjut lagi, herd dalam bahasa Inggris berarti 'kawanan binatang', misalnya
kawanan serigala, kawanan domba, atau kawanan burung. WHO menegaskan manusia
tak bisa disamakan dengan kawanan binatang. Ryan menjelaskan, pada dasarnya
konsep herd immunity adalah cara terakhir
mencapai kekebalan tubuh dari virus namun dengan bantuan vaksinasi, bukan
dengan cara pembiaran penularan virus terhadap manusia. Konsep herd immunity berisi perhitungan berapa
banyak orang yang bisa divaksinasi supaya semuanya bisa kebal. "Maka saya
pikir kita perlu sangat berhati-hati ketika menggunakan istilah ini terkait
penularan alami dan manusia, karena ini bisa mengarah ke artimetika yang sangat
brutal," kata Ryan.
Islam sendiri
sangat serius dalam memandang hal demikian, prinsipnya adalah “dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalb al
mashalih” menjauhi hal yang dapat merusak diri adalah lebih diutamakan
daripada mengejar kemaslahatan. Dan tak ada yang lebih utama dalam Islam
melebihi nyawa umat itu sendiri. Dari
al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ
مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya
seorang mukmin tanpa hak.” (HR.
Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Sedangkan
terhadap dunia Islam memandang, Dari
Al-Mustaurid bin Syaddad –semoga Allah meridhoinya- ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا
يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali
seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa
yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).
Kacaunya penanganan wabah sejak munculnya ini
harusnya cukup menjadi bukti kepada masyarakat, bahwa sistem kapitalis memang
tak akan pernah pantas dan sanggup meriayah manusia. Umat tak hanya butuh
pemimpin muslim. Kenyataannya sistem yang tidak sesuai hukum Islam ini, meski
dikemudi oleh wong deso tetap saja rusak dan merusak. Wallahu a’llam
Sumber : https://it-it.facebook.com/Dakwah.Nisa.Sulsel/photos/a.1405552836393748/2685418508407168/?type=3&eid=ARCu9PaFOr_a7l7CN125UxFfaNzxZsa6zFqF1lh2qDajQhCqZd3oHuVHsX5CC5dQg7ej7HZUrhFa4NJr






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact