Dan ketika alam hidup, mengajarkan kekejaman
Segala bayangan tergambar sepi yang terus berdetak pada arloji
Menerawangkan waktu yang sehitam dedak kopi
Dewa dikala hujan selalu melambangkan akan dirimu..
Yang nestapa selalu akan haus kedendaman
Dengarlahh kata dalam sanubari ini..
Telah habis masa tuk menganggap kau dewa matahari,
kini telah malam dan
saatnya tuk terlelap, dari bias- bias yang menerawangkan wajahmu sang politikus
Sampai kapankah kau akan menjadikan batu sandungan sebagai
cambuk kekuatanmu?
Sampai kapan?...
Sampai kapan kau merasuk pada jiwa jiwa anak bangsa yang
kelam ?
Sampai kapan?
Sampai kapan anak bangsa menekuk dibawah ketiak politikus
yang dianggapnya dewa?
Sampai kapan?
Haii kau politikus yang menyelinap di hati anak kami yang
sedang bimbang akan kebodohan
Membisikkan sejuta syair dusta yang indah
Lepaskanlah hati mereka
Hii kau anak-anak masa depan….
jangan kau biarkan
kata2 dewanya merasuki relungmu yang sedang kelabu
Sekarang bukan lagi masanya menepuk dada
Haii.. inilah saya anak yang bersembunyi di belakang orang
yang begitu tangguh
Begitu kuat…
Begitu berkuasa…
Punya segalanya….
Telaahlah anakku, saat tersesat kaukan mencari
Telaahlah anakku, Politikus pun akan mati.


0 komentar:
Posting Komentar
apa komentar kamu?