Dihari itu,
ku dihinggapi penasaran yang menggulir hatiku, yang membawa mataku menelusuri
jejak langkah yang begitu asing.. siapa gerangan pemilik jejak ini? Jejak yang
masih basah,
jejakmu yang terlihat semakin kumelaju semakin
transparan dan hampir-hampir kutak melihatnya
Kutelusuri
hingga singgasana, kulihat kau dengan lapang tertunduk dan berserah sehina
mungkin. Kau menengadah dan merengek kepada Tuhan mu, tanpa khawartir seorangpun
akan menertawakanmu.
Saat itu aku
merasa, jua membutuhkan Tuhan mu, tanpa kuingat lagi kenanganku bersama Tuhanku
sepanjang usiaku saat ini.
“Kulihat Tuhan bersemayam dalam
dirimu. Jawab aku, akankah Tuhanmu marah jika cintaku padamu lebih besar dari pada
cintaNya padamu..?
Jika seandainya Ia marah, maka
ajarkan aku mencintai Tuhanmu…
Jika kau bertanya, “bagaimana dengan
Tuhanmu sendiri tidakkah Ia marah melihat kau berpaling dengan Tuhanku”. Maka
aku akan menjawab sungguh, hanya butuh melihatmu sekali saja untuk melunturkan
kepercayaan ku yang sekian tahun, tak pernah kumelihat teduh yang seteduh itu,
dari itu ku berani berkata bagaimana bisa Ia marah, sementara wujudnya sendiri
belum jelas adanya. Dan jika seandainya Tuhanku itu benar Tuhan namanya, Dia
tidak akan menahan seorangpun yang tak lagi bahagia disisinya".


0 komentar:
Posting Komentar
apa komentar kamu?